TENTANG KOMODO DAN KEAJAIBAN DUNIA BARU

Sudahkah Anda mendukung Komodo untuk menjadi salah-satu dari tujuh keajaiban alam dunia yang baru dengan voting yang Anda lakukan baik melalui internet maupun SMS?

Atau Anda mulai bingung dengan makin maraknya kontroversi mengenai legitimasi serta validitas dari ajang dan proses pemilihan itu sendiri, meskipun berbagai tokoh termasuk mantan Wapres Jusuf Kalla dan bahkan Presiden SBY sendiri sudah menyatakan dukungannya agar Komodo dapat terpilih?

Lantas “tujuh keajaiban dunia yang baru” atau “New Seven Wonders” itu sendiri apa maksud dan maknanya sih? Kenapa juga mesti tujuh, tidak sembilan, sepuluh, atau malah cuma satu sekalian? Sejauh mana legitimasinya? Memang siapa yang berhak memilih atau menentukan?

Saya tidak muluk-muluk berharap artikel sederhana ini bisa memberikan jawaban tuntas atas pertanyaan-pertanyaan di atas yang mungkin bersliweran dalam benak Anda. Tapi mudah-mudahan bisa sedikit memberikan gambaran di tengah hiruk-pikuk antara seruan “Vote Komodo” dengan kontroversi yang meliputinya saat ini.

Kalau saya tidak salah ingat, dan mungkin sebagian dari Anda juga mengalami sendiri, dulu semasa SD kalau saya membeli atau membuka buku atlas, alias peta dunia, biasanya ada halaman khusus yang memuat gambar bangunan-bangunan bersejarah mancanegara yang dijuluki “tujuh keajaiban dunia”. Kalau saya ingat-ingat, tujuh bangunan yang ditampilkan tidak selalu persis sama dari satu atlas ke atlas lainnya.
Borobudur saja kadang-kadang nongol, kadang-kadang absen. Yang jadi “anggota tetap”, atau hampir pasti selalu muncul, paling-paling Piramida di Mesir, Tembok Besar di Cina, dan Menara Miring di Pisa, Italia.

Jadi, apa saja sih “Tujuh Keajaiban Dunia” yang sebenarnya itu?

Jawabannya tergantung: menurut versi siapa?

Istilah “Tujuh Keajaiban Dunia” sendiri sebenarnya bermula dari jaman Yunani kuno, dimana seseorang pelancong (turis kalau kata kita sekarang sih) bernama Antipater dari Sidon mengabadikan dalam sebuah puisi tujuh bangunan yang ia lihat sepanjang perjalanan dan sangat berkesan baginya. Bangunan-bangunan tersebut adalah Piramida Mesir, Taman Tergantung di Babylonia, Kuil Artemis di Ephesus, Patung Zeus
di Olympia, Mausoleum Halikarnassus di Turki, Colossus di Rhodes, dan Mercu Suar di Alexandria.

Dari semua “keajaiban” tadi ternyata hanya Piramida Mesir-lah yang cukup “ajaib” untuk bertahan hingga saat ini. Yang lain sudah keburu hancur, baik karena bencana alam ataupun karena ulah manusia, sejak berabad-abad yang lalu.

Kenapa kok tujuh?

Kalau hanya satu nanti puisinya Antipater jadinya kalah panjang sama pantunnya pak Tifatul, sedangkan kalau sampai duaribu lantas apa ajaibnya???

Hehehe…sori bercanda…tidak ada yang tahu persis kenapa jumlahnya mesti tujuh. Tapi banyak yang memperkirakan pembatasan tujuh ini semata-mata berdasarkan tradisi dan kepercayaan kuno yang menempatkan angka tujuh sebagai angka yang memiliki nilai magis.

Yang jelas, daftar ketujuh bangunan “ajaib” itupun menjadi terkenal dan menginspirasi lahirnya mungkin ratusan daftar “tujuh keajaiban” menurut berbagai versi lainnya hingga saat ini.

Salah satu contohnya adalah American Society of Civil Engineers, organisasi profesi yang mewadahi para insinyur sipil di Amerika Serikat, yang pada tahun 1994 melakukan pemilihan terhadap tujuh proyek pembangunan dalam sejarah dunia yang dianggap sebagai pencapaian bidang rekayasa sipil yang luar biasa, yang antara lain mencakup terowongan bawah laut Channel yang menghubungkan Inggris dan Perancis, jembatan Golden Gate di San Francisco, dan Terusan Panama. Demikian pula koran USA Today yang pada tahun 2006 juga merilis daftar tujuh keajaiban baru yang dipilih oleh enam juri dari berbagai bidang mulai dari ahli biologi kelautan hingga astrofisika. Tak heran isinya beraneka ragam, tidak hanya bangunan tapi termasuk juga teknologi “internet” di dalamnya.

Pada tahun 2000, seseorang bernama Bernard Weber melalui New7Wonders Foundation yang berkedudukan di Zurich, Swiss, meluncurkan sebuah proyek yang mereka namai “New Seven Wonders of the World” yang bertujuan untuk memilih bangunan-bangunan yang mencerminkan keajaiban dunia baru menggantikan keajaiban-keajaiban dunia versi Antipater. Pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara terbuka baik melalui telepon maupun internet, dan suara yang masuk diklaim mencapai angka 100 juta, dengan Tembok Besar Cina mendapatkan suara terbanyak dan menjadi “keajaiban dunia baru” bersama enam finalis “beruntung” lainnya.

Terlepas dari gegap-gempitanya promosi dan publikasi, ajang pemilihan tersebut tak lepas dari kritikan dan kontroversi.

Presiden Cile Michele Bachelet, misalnya, menyatakan bahwa rakyat Cile tidak perlu pemungutan suara untuk tahu bahwa patung-patung misterius di Pulau Paskah adalah suatu keajaiban dunia. Patung-patung tersebut kalah tipis dan hanya menempati urutan ke delapan.

Yang lucu adalah Italia. Meskipun Colosseum di Roma terpilih, namun konon kabarnya baik pejabat pemerintah kota setempat maupun kementerian kebudayaan negara itu mengaku samasekali tidak pernah mendengar mengenai diadakannya pemilihan tersebut. Ya kalau dipikir-pikir, memang tanpa ajang itupun Colosseun sudah terkenal, bukan?

Rampung dengan gawean memilih “tujuh keajaiban dunia baru”, yayasan tadi pun segera memulai proyek barunya yang bertajuk “New Seven Wonders of Nature”. Sesuai judulnya, proyek ini bertujuan memilih situs-situs yang layak dianggap sebagai “keajaiban alam di dunia”.

Taman Nasional Komodo yang berlokasi di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, terpilih sebagai salah satu dari 28 finalis yang akan berebut “tujuh tempat terhormat” berdasarkan metode pemilihan yang kurang lebih serupa dengan cara memilih “tujuh keajaiban dunia” empat tahun yang lalu. Pengumumannya sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 11 Nopember 2011 yang akan datang.

Lantas bagaimana dengan legitimasi dari ajang pemilihan “New7Wonders of Nature” ini? Apa dasar apa mereka berhak menentukan mana yang masuk “tujuh keajaiban” dan mana yang bukan?

Merujuk pada pemilihan “Seven Wonders of the World” sebelumnya, salah satu kritik keras untuk ajang ini terlontar dalam sebuah artikel yang dimuat di Los Angeles Times sehari setelah hasil pemungutan suara diumumkan. LA Times menyebut ajang ini sebagai aksi publisitas besar-besaran yang samasekali tidak ilmiah dan hanya merupakan kontes popularitas semata, dimana kemungkinan satu pemiih memasukkan suaranya berulang-ulang tidak dapat dihindarkan. Dengan kata lain, kalau ada orang yang bilang Tembok Cina adalah bangunan paling hebat dan ajaib di dunia berdasarkan hasil ajang tadi, maka pernyataan tadi sama validnya dengan bilang kalau penyanyi terhedat di Indonesia adalah siapapun yang jadi juara Indonesian Idol.

Inilah yang membedakan ajang semacam ini dengan, misalnya, proses pemilihan World Heritage Site (WHS) atau Situs Warisan Dunia yang diselenggarakan oleh UNESCO. Pemilihan WHS diawali dengan pemberian kesempatan bagi tiap negara untuk menominasikan situs yang mereka miliki untuk kemudian dievaluasi oleh International Council on Monuments and Sites dan World Conservation Union berdasarkan kriteria-kriteria baku yang sudah ditetapkan. Kedua lembaga itulah nanti yang akan memberikan rekomendasi kepada Komisi Warisan Dunia yang bersidang setahun sekali untuk menetapkan situs-situs mana saja yang akan masuk daftar WHS tersebut. Borobudur, Prambanan, Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Ujung Kulon adalah beberapa contoh situs warisan dunia dari Indonesia.

UNESCO sendiri sempat mengeluarkan keterangan pers tertanggal 9 Juli 2007 yang menyatakan tidak terlibat sama-sekali dan tidak memiliki keterkaitan apapun dengan proyek “New Seven Wonders” tersebut.
UNESCO merujuk kepada ajang New Seven Wonders of the World sebagai “kegiatan swasta yang lebih mencerminkan opini mereka yang memiliki akses internet dan bukan opini yang mewakili seluruh
dunia”.

Wah…wah…, ilegal dong kalau begitu?

***

Kalau bicara soal legitimasi, sebenarnya memang sah-sah saja bagi setiap orang ataupun institusi untuk membuat ajang pemilihan “keajaiban dunia” seperti yang saat ini dilakukan oleh Bernard Weber dan New Open World Corporation-nya. Hanya saja, pak Weber ini rupanya cukup jeli untuk “mengamankan” ajang yang diselenggarakannya itu,
paling tidak dari sisi perlindungan hak kekayaan intelektual.

Coba Anda kunjungi situs internet http://www.new7wonders.com yang merupakan situs resmi untuk ajang ini. Di situ, khususnya pada bagian terms and reference, disebutkan secara jelas bahwa New Open World Corporation (NOWC), institusi utama yang menjadi penyelenggara ajang ini, adalah pemegang hak atas merek-merek terdaftar “New Seven Wonders” untuk logo, nama produk dan nama layanan.

Penelusuran singkat yang sudah saya lakukan melalui situs organisasi HKI internasional (WIPO) menunjukkan bahwa Bernard Weber telah mengajukan pendaftaran merek atas “New 7 Wonders” melalui prosedur pendaftaran merek internasional berdasarkan sistem Madrid pada tahun 2007, mengacu pada pengajuan pendaftaran pertama kali di Swiss setahun sebelumnya. Hingga saat ini, tercatat bahwa merek tersebut telah terdaftar untuk dilindungi di negara-negara Masyarakat Eropa, dan tampaknya juga akan segera terdaftar di Mesir dan Rusia.

Bernard Weber mengajukan pendaftaran merek tersebut utamanya di kelas 41, yang mencakup, antara lain, jasa hiburan, produksi dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan live, kegiatan internet untuk tujuan hiburan dan informasi, produksi program radio dan televisi serta penyelenggaraan kompetisi baik dalam bidang pendidikan maupun hiburan. Di samping kelas 41 yang menaungi kegiatan ajang pemilihan keajaiban dunia itu sendiri, pendaftaran juga dilakukan untuk kelas-kelas barang/jasa lainnya, seperti kelas 16 (meliputi barang-barang cetakan), kelas 25 (meliputi pakaian jadi), kelas 28 (permainan), dan kelas 38 (telekomunikasi, termasuk juga penyiaran kegiatan melalui
radio dan televisi).

Sesuai dengan karakternya, sistem perlindungan merek memang samasekali tidak melindungi ide-ide mengenai suatu produk ataupun kegiatan sehingga siapapun berhak mengadakan kegiatan pemilihan keajaiban dunia. Akan tetapi perlindungan merek justru mampu memberikan perlindungan yang kuat, terutama dari sisi pemasaran dan
promosi suatu produk atau kegiatan, yaitu dengan memberikan perlindungan atas “label” yang dipergunakan untuk memasarkan produk atau kegiatan tersebut.

Dengan demikian, setidaknya di Eropa siapapun yang berniat menyelenggarakan kegiatan yang serupa dengan ajang pemilihan keajaiban dunia yang digelar oleh Bernard Weber dkk tadi mesti berhati-hati agar tidak menggunakan judul yang sama atau serupa dengan “New 7 Wonders” yang sudah terdaftar.

Pertimbangan untuk menilai ada-tidaknya persamaan atau persamaan pada pokoknya dalam sistem perlidungan merek memang sangat-sangat subjektif. Menurut hemat saya, frasa “seven wonders” sendiri sudah menjadi frasa yang sangat lazim dipergunakan oleh umum sejak jamannya puisi Antipater dulu hingga sekarang, sehingga semestinya tidak boleh ada yang memonopoli penggunaan frasa tersebut.

Tidaklah melanggar jika kita, misalnya, kemudian menyelenggarakan ajang pemilihan “Seven Wonders of Indonesia” atau memprakarsai ajang pemilihan “Seven Wonders of South East Asia”.

Namun di sisi lain, pemilihan frasa “New Seven Wonders” sebagai judul kegiatan sendiri menunjukkan kelihaian strategi dari para penyelenggaranya, karena judul yang sebenarnya sederhana ini bisa jadi memiliki potensi yang cukup kuat untuk menanamkan kesan di benak siapapun yang mendengar atau membacanya bahwa inilah ajang kompetisi untuk menentukan keajaiban-keajaiban dunia yang “baru”, untuk menggantikan keajaiban-keajaiban dunia kuno versi Antipater yang juga dikenal sebagai “seven wonders of the ancient world”.

Strategi pemasaran yang lumayan jitu!

***

Kalau begitu ajang ini cuma akal-akalannya si Bernard Weber dan konco-konconya itu saja dong? Dan kita dan termasuk para tokoh-tokoh bangsa yang kita hormati itu selama ini sudah dibohongi?

Saya pribadi sih tidak mau se-ekstrem itu memandangnya. Di tengah banyaknya kecaman yang menyatakan bahwa ajang “New Seven Wonders” ini adalah ajang komersial yang mengandung unsur tipu-tipu, saya kok cenderung melihat bahwa upaya kita semua selama ini untuk mendukung komodo tidaklah mungkin sia-sia begitu saja tanpa membawa manfaat samasekali.

Terlepas dari tudingan bahwa ajang ini bersifat sepihak, partikelir, komersil, tidak ilmiah, tidak resmi, atau entah apa lagi, toh dengan segala kehebohan yang ditimbulkannya selama beberapa tahun ke belakang ini sudah cukup menjadi bukti bahwa ajang ini punya kekuatan publisitas yang cukup besar.

Nggak percaya?

Coba saja sekarang “iseng-iseng” kita bandingkan dengan World Heritage Site-nya UNESCO. Taman Nasional Komodo sudah masuk dalam daftar “bergengsi” ini sejak tahun 1991, bahkan sejak tahun 1995 Taman Nasional ini mendapat sokongan bagi pengelolaan dan pemeliharaan dari organisasi amal dan non-profit terkemuka di bidang lingkungan hidup, The Nature Conservancy. Hasilnya? Banyak yang masih belum tahu Pulau Komodo itu di mana, dan malah seenaknya mengkambing-hitamkan komodo-komodo yang hidup tenang di padang rumput NTT sebagai penyebab kemacetan di Jakarta – katanya gara-gara komodo lewat – padahal kan komodo itu kadal bukan kambing???….:p

Tapi beberapa tahun ke belakang ini, sejak gencar-gencarnya promosi “New Seven Wonders of Nature” ini, Indonesia seakan-akan terjangkit demam komodo. Seakan-akan tiada hari tanpa berita soal pencalonan “komodo” ini baik di media sosial di internet, maupun di media massa. Mereka bahkan didapuk jadi maskot Sea Games XXVI 2011 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang (siap-siap saja kalau sampai acaranya bikin macet dimana-mana, jadi kambing lagi tuh kadal…:p). Ada hubungannya atau tidak, namun setidaknya gencarnya pemberitaan soal “Vote Komodo” belakangan ini ikut mendongkrak popularitas taman nasional itu, meski baru di kalangan domestik saja.

Lagipula, dengan Taman Nasional Komodo memang sudah menjadi Warisan Dunia, pengakuan apalagi yang dicari?

Kalau kita mencari pengakuan sebagai yang paling unggul, hebat dan ajaib di dunia, melebihi tempat-tempat di negara lain, lupakan saja! Masing-masing dari baik ke-28 finalis “New Seven Wonders of Nature” maupun keajaiban alam lainnya di dunia mempunyai karakteristik dan keunggulannya sendiri, dimana tidak ada satu orang atau satu lembaga pun yang mampu dan juga berhak untuk menentukan mana yang paling
“ajaib” di antara yang lain.

Sekarang tinggal lagi berusaha bagaimana agar Taman Nasional Komodo ini dapat lebih dikenal oleh dunia sehingga berdampak positif baik dari segi peningkatan pariwisata maupun dari sisi meningkatnya perhatian untuk pengelolaan dan pelestarian alam setempat. Di sinilah justru sifat komersial yang dimiliki oleh “New Seven Wonders” dengan dibarengi akses media dan kekuatan publisitasnya bisa jadi bermanfaat.

Hitung-hitungan saya sebagai orang bodoh yang optimis saja, dari semua orang di seluruh dunia yang berpartisipasi dalam pemilihan tersebut, bisa saja paling tidak setengahnya pasti “kepingin tahu” perkembangan suara yang masuk serta hasil akhirnya dengan memantau pemberitaan mengenai ajang tersebut baik melalui internet maupun media lainnya. Sebagian dari mereka mungkin belum pernah mendengar tentang Komodo dan jadi tahu dari melihat pemberitaan tersebut, meskipun yang mereka dukung adalah tempat lain. Dari sini saja sudah cukup wajar rasanya kalau kita berharap agar Taman Nasional Komodo menjadi lebih dikenal oleh dunia luar; apalagi kalau menang.

Hanya saja jangan sampai kita terlalu berlebihan dan keblinger manakala mendukung komodo untuk ajang ini. Ini perlu diingatkan berkali-kali lantaran sepertinya “keblinger” sudah semakin jadi hobi kita bersama: hal yang tidak terlalu penting lebih diutamakan
dibanding sesuatu yang mestinya diprioritaskan.

Mendukung Komodo menjadi “keajaiban alam yang baru” memang penting, tapi yang tidak kalah penting adalah membangun sarana dan prasarana yang memadai bagi Taman Nasional Komodo itu sendiri. Jangan sampai saat “keajaiban dunia” berhasil diraih kita malah jadi kebingungan sendiri menangani peningkatan jumlah wisatawan yang datang. Atau lebih celakanya lagi, semakin “beken”-nya Taman Nasional Komodo malah membuat kelestarian habitat Komodo itu sendiri menjadi terancam dan rusak.

Untuk masalah dukung-mendukung, jangankan endorsement secara pribadi dari para tokoh bangsa, dukungan pemerintah terhadap program “Vote Komodo” ini pun sebenarnya wajar dan sah-sah saja. Di beberapa negara lain yang juga ikut punya “jago” dalam ajang ini pun ada yang pemerintahnya ikut terlibat aktif mendorong agar rakyatnya ikut memilih. Tapi ya jangan berlebihan itu tadi. Tidak perlu mengeluarkan anggaran sampai ratusan milyar hanya untuk mempromosikan program ini agar masyarakat itu memilih. Bukankah akan lebih baik jika dana yang sebagian berasal dari keringat para pembayar pajak itu lebih dimanfaatkan untuk membangun sarana-prasarana lingkungan dan pariwisata Pulau Komodo dan sekitarnya?

Mudah-mudahan agak jelas sudah urusan kontroversi komodo ini. Saya rasa tidak ada benar atau salah disini, sepanjang sesuai dengan proporsi yang wajar. Setuju atau tidak, ikut memilih atau tidak, itu hak Anda masing-masing. Tapi kalau Taman Nasional Komodo bisa terpilih, tentunya saya dan saya harap juga Anda semua, setidaknya bisa ikut senang dan berbahagia.

Jadi, sudahkah Anda memilih Komodo?…:)

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: