“BANK PATEN” DAN UPAYA MELAWAN PATENT TROLL

Taiwan akan membentuk suatu lembaga yang akan menjalankan fungsi sebagai “bank HKI” atau “bank paten” demi melindungi dan membantu perusahaan-perusahaan lokal Taiwan dalam menghadapi ancaman gugatan paten dari mancanegara.

Menurut Direktur Industrial Technology Research Institute (ITRI), sebuah lembaga kuasi-pemerintah di negara yang terletak di pulau Formosa itu, “bank HKI” yang akan dibentuk bertujuan untuk membantu para pengusaha manufaktur di Taiwan dalam membangun strategi serta portofolio paten selama masa penelitian dan pengembangan. Bantuan tersebut berlanjut hingga menghadapi kemungkinan tuntutan pelanggaran paten dari pihak lain dan juga dalam rangka pengembangan pangsa pasar mereka.

Dengan adanya Bank HKI ini, perusahaan Taiwan yang tengah digugat pelanggaran paten bisa meminta bantuan untuk mendapatkan alternatif paten-paten lain yang dapat dipergunakan maupun strategi lainnya. Bank HKI juga dapat menggunakan pendanaannya untuk membeli paten-paten yang dihasilkan oleh universitas-universitas serta lembaga-lembaga riset lainnya di Taiwan sebagai pendukung industri dalam negeri.

Lembaga serupa sudah pula dibentuk di beberapa negara lain. Di Korea Selatan misalnya, pada tahun 2010 dibentuk Intellectual Discovery yang bertugas membantu pengusaha lokal menghadapi gugatan-gugatan paten dari luar negeri. Salah satu metode yang ditempuh adalah dengan membeli paten-paten yang berpotensi dipergunakan untuk menuntut perusahaan-perusahaan Korea Selatan, serta dengan menganggarkan dana untuk menyokong upaya universitas-universitas dan lembaga-lembaga riset dometik dalam menghasilkan paten-paten dan mengajukannya untuk dapat diberi perlindungan pula di luar negeri.

Jepang bahkan sejak tahun 2009 memiliki sebuah lembaga yang dibangun dengan kemitraan antara publik dengan swasta, Innovation Network Corporation of Japan (INCJ), yang memberikan pelayanan serupa dengan tujuan mendukung dan mengamankan strategi HKI, khususnya paten, dari perusahaan-perusahaan lokal.

***

Dalam perkembangan dewasa ini portofolio HKI dan paten khususnya menjadi aset yang semakin diperhitungkan dalam menentukan tinggi-rendahnya posisi tawar dari suatu perusahaan. Aset-aset intelektual tersebut juga kerap dipergunakan sebagai “senjata” ampuh dalam mempertahankan keunggulan suatu perusahaan dari kompetitor-kompetitornya. Namun di sisi lain, tingginya nilai dari aset-aset HKI tersebut ternyata juga menimbulkan dampak buruk yang justru dapat menghambat kompetisi dan inovasi itu sendiri.

Salah satu dampak buruk tersebut adalah bermunculannya perusahaan-perusahaan pemilik paten yang sangat agresif dan oportunistik, yang lazim dijuluki “patent troll”. “Troll” adalah istilah yang berasal dari mitologi kuno bangsa Jerman dan juga Skandinavia yang merujuk pada sejenis mahluk mitos yang berwujud raksasa dengan perilaku yang sangat agresif, kasar dan membahayakan manusia, namun cenderung bodoh. Dalam serial kisah The Lords of the Ring karya J.R.R. Tolkien misalnya, “troll” kerap dipergunakan pasukan Sauron sebagai penyerang bersenjata gada, meski ada juga troll yang dirantai dan diperbudak sebagai pembuka pintu gerbang yang besar dan berat.

Sifat-sifat negatif dan merusak dari “troll” dalam kisah mitologi inilah barangkali yang menginspirasi istilah “patent troll” yang dialamatkan pada perusahaan-perusahaan yang memiliki paten-paten, biasanya dalam jumlah besar, namun hanya mempergunakan portofolio patennya tersebut semata-mata untuk menggugat pihak lain dan meraup keuntungan dari kompensasi yang diberikan, tanpa melakukan aktivitas apapun untuk memproduksi dan memasarkan invensi-invensi yang dipatenkan tersebut.

Para patent troll ini biasanya memiliki portofolio paten yang cukup besar, yang mereka dapatkan secara murah meriah dari pelelangan aset-aset perusahaan lain yang mau gulung tikar. Mereka umumnya memang tidak menghasilkan sendiri paten-paten yang mereka miliki, karena jangankan unit R&D, unit produksi pun mereka nggak punya samasekali.

Lantas, apa tujuan hidup “mahluk” bernama patent troll ini?

Sederhana saja. Mereka menggunakan paten-paten yang mereka miliki tersebut untuk melancarkan gugatan paten terhadap siapapun yang bisa mereka klaim telah melakukan pelanggaran paten, sekaligus memanfaatkan ketakutan banyak pihak akan proses litigasi paten di pengadilan, yang di samping hasilnya sering tak terduga, juga menghabiskan biaya yang sangat besar, bahkan bagi yang menang sekalipun. Menang atau kalah, biaya litigasi paten di Amerika Serikat bisa mencapai 1 hingga 2,5 juta dolar. Karena itulah banyak tergugat yang lebih memilih bernegosiasi untuk mendapatkan lisensi atas paten-paten tersebut dengan biaya jauh lebih rendah: “hanya” sekitar ratusan ribu dolar saja, meskipun belum tentu secara substansi paten-paten tersebut cukup kuat.

***
Ada hal-hal yang perlu dicermati untuk mengamankan diri dari ancaman gugatan pelanggaran paten manakala seseorang berencana untuk membuat suatu produk ataupun tertentu. Yang paling awal sebaiknya dilakukan tentu saja dengan melakukan clearance search, yaitu penelusuran dilengkapi analisis yang dilakukan secara profesional terhadap database-database paten yang tersedia baik dalam maupun luar negeri, untuk memastikan sejauh mana produk yang akan dibuat berpotensi melanggar paten milik pihak lain.

Jika ternyata hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa ada paten milik pihak lain yang akan dilanggar oleh produk yang akan dibuat, maka beberapa alternatif dapat ditempuh.

Yang pertama bisa dengan mengambil alih hak atas paten yang mungkin dilanggar tadi. Perlu diketahui bahwa demi melancarkan riset mengenai lampu bohlam yang membuatnya termahsyur, Thomas Alva Edison melakukan penelusuran paten dan menemukan sebuah paten mengenai teknologi filamen karbon di ruang hampa oksigen karya dua inventor Kanada Henry Woodward dan Matthew Evans yang berpotensi dilanggar oleh bohlam temuannya. Yang dilakukan oleh sang penemu jenius itu kemudian adalah membeli hak atas paten tersebut dengan harga limaribu dolar ketika itu, atau senilai lebih dari seratus ribu dolar sekarang.

Kalau tidak mau membeli, mendapatkan lisensi pun bisa menjadi jalan keluarnya. Atau kalau si produsen sendiri punya paten yang berkaitan, bisa saja ditawarkan kepada si pemilik paten tadi untuk mengadakan lisensi-silang, atau cross-licensing.

Alternatif lain adalah dengan mendesain ulang produk yang akan dibuat sehingga tidak mengandung unsur-unsur apapun yang diklaim dalam paten yang berpotensi dilanggar. Adapun alternatif lainnya yang agak ekstrem adalah dengan mengajukan gugatan pembatalan terhadap paten tadi. Tapi ingat, hanya lakukan cara yang terakhir ini jika benar-benar yakin kalau paten yang akan digugat pembatalan tersebut memang secara substansi “cacat” dan seharusnya tidak mendapatkan perlindungan paten.

Tapi kalau yang dihadapi adalah kompetitor semacam “patent troll” ceritanya memang bisa berbeda mengingat “niat buruk” mereka yang memang “mencari nafkah” dari melancarkan gugatan paten kapanpun dan melawan siapapun yang mereka bisa. Untuk itu pendirian “bank paten” seperti yang dilakukan Jepang, Korsel dan Taiwan bisa menjadi salah satu alternatif solusi yang sangat layak dipertimbangkan.

Untungnya, UU Paten kita sebenarnya punya semacam “perlindungan” terhadap “patent troll” ini. Pasal 17 UU no. 14 tahun 2001 tentang Paten mewajibkan agar pemegang paten membuat produk atau menggunakan proses yang dilindungi paten di Indonesia. Hanya saja, UU tidak memuat sanksi bagi pemegang paten yang tidak melaksanakan kewajiban pasal 17 tersebut, kecuali bahwa tidak dipergunakannya paten tersebut bisa dijadikan alasan bagi pihak lain untuk memohon pemberian lisensi wajib.

Yah mendinganlah, daripada nggak ada samasekali kan?

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

3 Responses to “BANK PATEN” DAN UPAYA MELAWAN PATENT TROLL

  1. Yth. Bp. Prayudi Setiadharma,

    Saya menemukan telah sebentuk rancangan teknologi kelistrikan sederhana untuk alat bantu pengetesan. Rancangan ini telah dimanifestasikan menjadi sebentuk alat dan telah digunakan dengan memuaskan.

    Saya berkeinginan untuk mendaftarkan hak paten untuk rancangan tersebut. Saya telah melakukan pengecekan hak paten di USPTO, JPO dan EPO dengan hasil nihil, artinya rancangan teknologi yang saya temukan memang belum ada.

    Saya memiliki beberapa pertanyaan mengenai pendaftaran hak paten seperti dipersyaratkan oleh undang-undang:

    – Apakah definisi deskripsi itu ?
    – Apakah definisi abstrak itu ?
    – Apakah perbedaan antara deskripsi dan abstrak ?
    – Apakah klaim itu ?

    Saya sampai saat ini belum berani mendaftarkan diri ke Direktorat Hak Atas Kekayaan Intelektual karena:

    1. Masih belum memahami definisi-definisi syarat legal dari persyaratan Undang-Undang.
    2. Masih meragukan jasa konsultan; bukan karena kompetensinya (saya yakin akan kompetensi legal mereka) namun lebih pada kejujuran mereka.
    3. Masih meragukan adanya keamanan akan rahasia teknologi yang saya temukan karena teknologi ini dapat diaplikasikan untuk industri secara luas sehingga klaim sepihak/pengakuan sebagai penemu atau pencurian kekayaan intelektual oleh konsultan atau ‘oknum/orang dalam’ di Direktorat HAKI masih sangat dimungkinkan, mengingat jumlah finansial yang mungkin menggiurkan.
    4. mengingat biaya yang diminta oleh konsultan hak paten dan oknum pihak Direktorat HAKI bisa membengkak jauh dari tarif yang diperjanjikan atau yang telah ditentukan, sebab saya bukan seorang yang memiliki dana besar.

    Mohon pencerahannya.

    Terimakasih banyak atas perhatian Bapak sebelumnya

    • Prayudi Setiadharma says:

      Pak Stevanus Yth.,

      Terima-kasih telah mengunjungi blog saya dan atas pertanyaan.

      Saya akan mencoba menjawab secara ringkas pertanyaan-pertanyaan pak Stevanus.

      1. Yang dimaksud dengan Deskripsi adalah bagian dari dokumen paten yang berisi uraian teknis mengenai invensi/penemuan yang dipatenkan. Deskripsi secara umum terbagi atas bagian-bagian yang menjelaskan, a.l. latar belakang yang menimbulkan alasan ditemukannya invensi tersebut, i.e. masalah yg ada pada teknologi sebelum invensi tsb.; solusi teknis yang ditawarkan oleh invensi tersebut; cara dan mekanisme bagaimana invensi tersebut dibuat dan dilaksanakan; serta keterangan-keterangan lain termasuk keterangan gambar teknis yang disertakan. Perlu diingat bahwa tujuan paten adalah mengembalikan teknologi ini agar bebas dipakai oleh siapapun setelah 20thn masa perlindungannya berakhir. Nah deskripsi ini idealnya dibuat agar publik dapat melaksanakan invensi tsb nantinya.

      2. Adapun abstrak sebenarnya merupakan uraian ringkas mengenai invensi tersebut dalam satu atau dua paragraf yang memungkinkan siapapun yang sedang melakukan search/penelusuran paten dapat memperoleh gambaran singkat mengenai isi dari invensi tersebut. Ibaratnya, abstrak itu seperti ringkasan cerita film di cover dvd untuk membantu kita memilih film apa yang akan kita beli tanpa harus memutar dvdnya terlebih dahulu.

      Saya rasa pertanyaan nomor 3 sudah terjawab. Untuk nomor 4, klaim justru merupakan bagian terpenting dari suatu paten. Ibarat sertifikat tanah, klaim memuat ukuran patok-patok batas tanah yang kita miliki. Di dalam klaim, yang dituangkan dengan kombinasi bahasa teknis dan hukum, terdapat parameter-parameter yang memberikan batasan konkrit mengenai invensi kita, sehingga orang lain yg membuat sesuatu yg ada dalam batas-batas tersebut tanpa izin dapat dikatakan telah melanggar paten.

      Mengenai invensi/penemuan yg bapak miliki, saya akan dengan senang hati membantu bapak mencarikan solusi yang terbaik. Saya bersama rekan-rekan di kantor sudah beberapa kali membantu rekan-rekan inventor lokal mematenkan invensinya baik di Indonesia maupun di luar negeri, dan alhamdulillah kami lakukan selama ini dengan kerahasiaan yang terjaga dengan baik dan juga profesional.

      Bagaimana kalau kita ketemu saja dulu supaya bisa diskusi dengan lebih leluasa. Jangan khawatir pak, meskipun konsultan, namun untuk konsultasi awal kami tidak akan mengenakan biaya apapun…hehehe… Bapak bisa hubungi saya melalui e-mail di psetiadharma@gmail.com atau telefon di 0811919045.

      Mungkin segitu dulu saja pak. Semoga berkenan, terima-kasih.

      Salam,
      Prayudi Setiadharma

      • Terima kasih jawabannya Pak Prayudi Setiadharma,

        Jawaban Bapak cukup memberikan gambaran bagi saya secara umum, untuk batasan-batasan klaim dengan bahasa hukum saya memang masih buta.

        Tawaran Bapak sangat membantu saya, dan saya akan menghubungi Bapak melalui e-mail.

        Sekali lagi terimakasih.

        Salam,

        Stefanus Windarhariadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: