MDCO DAN TEVA DAMAI SOAL PATEN BIVALIRUDIN

Sekali lagi terbukti bahwa “pertempuran” yang terjadi gara-gara urusan paten dapat diselesaikan dengan “manis” di meja perundingan.

Sengketa pelanggaran paten yang berlangsung antara The Medicines Company (MDCO) melawan Teva Parenteral Medicines, Inc. (Teva) dan anak perusahaannya, Pliva Hrvatska d.o.o. (Pliva), akhirnya diselesaikan melalui perdamaian diantara para pihak.

Sengketa berawal dari upaya Teva untuk melakukan uji bioekuivalensi terkait perijinan produksi dan edar ke Food and Drugs Administration alias Badan POM Amerika Serikat, dalam rangka mendapatkan ijin produksi dan edar untuk produk generik dari Angiomax, nama dagang obat bivalirudin yang berkhasiat untuk menghambat penggumpalan darah. Obat tersebut setidaknya mengandung dua paten yang masih berlaku, US7,582,727 dan US7,598,343, dimana dalam pengajuan ijin produksi generik tersebut Teva menyatakan bahwa kedua paten semestinya berlaku sampai 27 Juli 2028 tersebut tidak valid. MDCO kemudian bereaksi dengan mengajukan gugatan pelanggaran paten terhadap para tergugat di atas ke Pengadilan Distrik Delaware pada menjelang akhir 2009.

Dalam kesepakatan damai yang dicapai oleh para pihak yang bersengketa, Teva yang mengakui validitas dari kedua paten MDCO tersebut mendapatkan lisensi untuk membuat produk generik bivalirudin mulai 30 Juni 2019. Teva juga akan menyuplai MDCO dengan bahan farmasi aktif untuk bivalirudin yang mereka produksi di bawah lisensi tersebut, sehingga menambah sumber bahan baku guna mendukung rencana pengembangan produk yang dimaksud. Sesuai dengan hukum yang berlaku di Amerika Serikat, sebelum dinyatakan sah dan mengikat kesepakatan damai ini akan terlebih dahulu diperiksa oleh US Federal Trade Commission dan US Department of Justice.

Selain dengan Teva yang telah diselesaikan dengan damai tersebut, untuk dua paten yang sama sengketa pelanggaran paten di pengadilan masih terus berlanjut antara Teva dengan perusahaan farmasi lainnya seperti APP Pharmaceuticals, Hospira, Mylan Pharmaceuticals dan Dr. Reddy’s Laboratories.

Disarikan dari berita MarketNews.com

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: