AMERICA INVENTS ACT: SEKILAS TENTANG UU PATEN BARU AMERIKA

Pada tanggal 16 September 2011 yang lalu Presiden Amerika Serikat Barack Obama menanda-tangani pengesahan sebuah UU yang bertujuan untuk mereformasi sistem perlindungan paten Amerika Serikat dengan perubahan yang disebut-sebut paling signifikan dalam enampuluh tahun terakhir. UU yang dinamai Leahy-Smith America Invents Act tersebut disahkan setelah Senat menyetujui rancangan undang-undang setebal lebih dari 150 halaman tersebut dengan perbandingan suara telak 89-9.

Salah satu perubahan paling signifikan dalam sistem perlindungan paten di Amerika Serikat yang dibawa oleh UU baru tersebut adalah beralihnya AS dari yang semula menjadi tinggal satu-satunya negara yang keukeuh menganut sistem first-to-invent menjadi penganut first-to-file seperti halnya negara-negara lain di seluruh dunia.

Berbeda dengan sistem first-to-file dimana paten akan diberikan kepada pihak yang pertama kali mengajukan permohonan paten terhadap suatu invensi yang ditemukannya, dalam sistem first-to-invent paten seseorang dapat memperoleh paten atas suatu invensi yang permohonan patennya diajukan terlebih dahulu oleh pihak lain apabila ia dapat membuktikan di pengadilan bahwa dialah orang yang pertama kali menemukan invensi tersebut.

America Invents Act juga menyelenggarakan suatu prosedur baru dimana hingga sembilan bulan sejak diberikannya suatu Paten, pihak lain dapat menggugat pemberian paten tersebut kepada kantor paten Ameriksa Serikat (USPTO) dengan mengajukan bukti-bukti pendukung yang memadai. Meskipun prosedur serupa juga dimungkinkan sebelum disahkannya UU baru ini dimana seseorang bisa mengajukan permohonan untuk pemeriksaan kembali atas suatu paten, namun ruang lingkupnya relatif jauh lebih terbatas.

Dengan demikian, dalam sistem permohonan paten Amerika Serikat setelah hadirnya UU baru ini terdapat setidaknya tiga macam prosedur bagi pihak ketiga untuk mengajukan keberatan atas suatu permohonan paten.

Prosedur pertama adalah Pre-Issuance Third-Party Submissions, dimana suatu pihak ketiga dapat mengajukan kepada USPTO publikasi tertulis serta dokumen-dokumen relevan lainnya yang memberatkan bagi suatu invensi yang patennya tengah dimohonkan pada tahap pemeriksaan substantif, sebagai bahan pertimbangan bagi USPTO untuk menolak permohonan paten tersebut. Prosedur yang kedua adalah Third-Party Requested Post Grant Review, yaitu dimana selama sembilan bulan sejak suatu paten diberikan, pihak ketiga yang berkepentingan dapat mengajukan peninjauan kembali atas sekurang-kurangnya satu klaim dari paten tersebut kepada USPTO. Sedangkan prosedur yang ketiga adalah Inter Partes Review Proceedings, dimana setelah masa sembilan bulan pada prosedur kedua di atas berakhir, siapapun yang berkepentingan berhak mengajukan peninjauan terhadap paten yang telah diberi dengan berdasarkan atas pertimbangan kebaruan (novelty) dan keterdugaan (obviousness)/langkah inventif yang dikandung dalam paten tersebut.

Pengesahan America Invents Act tersebut berarti pula kabar gembira bagi USPTO yang kini mendapat kewenangan sendiri untuk menentukan besaran biaya yang akan dibebankan kepada para pengguna jasa; kewenangan yang semula dipegang sepenuhnya oleh Kongres. Meskipun Kongres masih memegang kewenangan dalam hal penganggaran, UU baru mengatur pula bahwa USPTO sewaktu-waktu dapat mengajukan permintaan untuk menggunakan dana yang disimpan dari pungutan biaya yang berlebih dari anggaran yang diperlukan.

Dengan adanya kewenangan ini tentunya diharapkan agar USPTO bisa memiliki lebih banyak kelonggaran dan kebebasan bergerak dalam hal-hal yang selama ini terhambat oleh terbatasnya anggaran, terutama untuk memperbaiki sekaligus memperbaharui fasilitas-fasilitas penunjang operasional seperti sistem teknologi informasi yang kerap manjadi kambing hitam lamban dan bertumpuknya pemrosesan permohonan paten.

Satu perubahan lagi yang dibawa oleh America Invents Act adalah terdapatnya beberapa pengaturan mengenai paten untuk metode bisnis dan program komputer yang sudah sejak tahun 1990-an selalu menjadi topik perdebatan yang hangat dan kontroversial dalam sistem perlindungan paten Amerika Serikat. Salah satu terobosan yang diperkenalkan oleh America Invents Act adalah ketentuan mengenai suatu proses khusus yang dapat ditempuh untuk membatalkan paten-paten dalam bidang produk atau jasa keuangan. Aturan lain yang juga diterapkan dalam UU baru ini terkait paten untuk program komputer adalah dinyatakannya secara khusus dan jelas bahwa program komputer untuk strategi perpajakan tidak dapat dipatenkan.

Meskipun disebut membawa perubahan yang signifikan namun tetap saja UU yang baru ini menuai banyak kontroversi. Sebagian besar kritik menyatakan bahwa UU ini lebih mengakomodir kepentingan industri besar, tercermin dari perubahan sistem paten dari first-to-invent ke first-to-file yang sedikit banyak menguntungkan mereka yang memiliki modal lebih besar untuk mengajukan permohonan paten yang memang menyedot biaya tidak sedikit. Tentunya masih perlu dilihat lebih lanjut apakah UU ini memang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: