ULTRAMERCIAL V HULU: PERKEMBANGAN TERBARU MENGENAI PATEN METODE BISNIS DI AMERIKA SERIKAT

Pengadilan banding federal di Amerika Serikat, the United States Court of Appeals for the Federal Circuit, baru-baru ini mengeluarkan putusan dalam suatu perkara banding yang diajukan oleh Ultramercial, LLC melawan Hulu, LLC dan Wildtangent, Inc. terkait pelanggaran atas paten Amerika Serikat nomor 7,346,545 yang dimiliki oleh Ultramercial mengenai metode untuk mendistribusikan barang-barang yang memiliki perlindungan hak cipta – seperti lagu, film dan buku – melalui internet dimana konsumen akan memperoleh barang-barang tersebut secara gratis setelah melihat iklan tertentu dan biaya atas barang-barang tersebut akan dibayar oleh pihak pemasang iklan.

Ultramercial mengajukan gugatan pelanggaran paten ke US District Court for the Central District of California, yang ternyata menolak gugatan Ultramercial karena mengangga apa yang diklaim dalam paten ‘545 milik Ultramercial tersebut tidak termasuk dalam hal-hal yang dapat dipatenkan. Atas putusan pengadilan distrik tersebut, Ultramercial pun mengajukan banding.

Pengadilan banding federal menilai bahwa pengadilan distrik telah mengambil putusan menyatakan invensi penggugat tidak layak datenkan tanpa terlebih dahulu melakukan cukup penafsiran secara formal terhadap klaim-klaim yang dibuat penggugat dalam paten ‘545. Pengadilan banding berpandangan bahwa penafsiran klaim dengan konstruksi yang tepat dapat menjelaskan karakter mendasar mengenai termasuk ke dalam hal apakah sebenarnya invensi yang diklaim tersebut.

Dalam hal ini, pengadilan banding melakukan penafsiran terhadap subjek paten ‘545 dengan mengacu sepenuhnya pada Paragraf 101 UU Paten Amerika Serikat yang menyatakan bahwa “siapapun yang menemukan proses, mesin, manufaktur, atau komposisi apapun yang baru dan memiliki kegunaan, atau pengembangan apapun daripadanya, dapat memperoleh perlindungan paten sepanjang memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam UU ini“.

Meskipun ide-ide maupun konsep-konsep yang abstrak tidak dapat dipatenkan, namun penerapan dari suatu ide yang abstrak bisa saja dipatenkan. Pengadilan banding merujuk pada kasus Parker v Flook yang diputus oleh Mahkamah Agung di tahun 1978, dimana dinyatakan oleh majelis hakim bahwa meskipun fakta-fakta ilmiah maupun ekspresi matematika tidak dapat dipatenkan, struktur yang baru dan berguna yang dibuat menggunakan fakta-fakta ilmiah tersebut dapat dilindungi paten.

Subjek dari paten ‘545 menurut pengadilan banding adalah metode untuk memperoleh uang dari pendistribusian produk-produk hak cipta melalui internet, yang mana sebagai suatu metode cukup memenuhi definisi “proses” sesuai paragraf 100 UU Paten. Dengan demikian, pengadilan memandang bahwa sebagai suatu “subjek yang dapat dipatenkan”, kelayakan paten ‘545 tidak lagi perlu dipermasalahkan. Tinggal lagi perlu dianalisis, apakah “proses” yang menjadi subjek dari paten ‘545 tersebut tidak terlalu abstrak untuk dapat dipatenkan.

Kasus ini merupakan perkembangan terbaru dari kontroversi panjang mengenai dapat dipatenkannya metode bisnis dan juga program komputer di Amerika Serikat, dimana di banyak yurisdiksi paten lain di dunia kedua subjek tersebut tidak dapat dipatenkan. Sebelumnya terdapat pula suatu kasus yang cukup memberikan guncangan signifikan pada sistem paten Amerika Serikat yang selama ini cukup liberal dalam hal mengakui perlindungan paten atas metode bisnis dan program komputer, yaitu kasus Bilski v Kappos di tahun 2010, dimana Mahkamah Agung AS menguatkan putusan penolakan pemberian paten terhadap suatu invensi mengenai metode untuk menghindari risiko perubahan harga (hedging) untuk penjual dan pembeli komoditi di pasar energi, karena menganggap subjek dari invensi tersebut tidak terkait dengan suatu alat tertentu dan hanya memanipulasi suatu ide yang abstrak dalam memecahkan suatu problema matematika murni. Dalam mengambil putusan tersebut, MA juga menetapkan bahwa suatu proses hanya dapat dipatenkan apabila terkait dengan suatu mesin atau alat tertentu dan dapat mentransformasi suatu hal menjadi hal lain yang berbeda.

Dalam menganalisis subjek dari paten ‘545 pengadilan banding menilai bahwa meskipun gagasan untuk menjadikan iklan sebagai “alat tukar” masih cukup abstrak, namun paten ‘545 mencakup lebih dari sekedar gagasan abstrak tadi, yaitu pengaplikasiannya secara praktis. Penerapan paten ‘545 menurut pengadilan banding turut melibatkan pemrograman komputer secara ekstensif sehingga yurut membuatnya layak mendapatkan perlindungan paten, khususnya dibandingkan dengan klaim atas metode “hedging” dalam kasus Bilski yang ditolak patennya karena dianggap sebagai metode yang terlalu abstrak.

Bahwa dilibatkannya pemrograman komputer menjadi faktor penting yang membuat metode tersebut dapat dipatenkan, pengadilan banding merujuk pada kasus in re Alappat yang diputus oleh pengadilan yang sama pada tahun 1994, dimana majelis hakim ketika itu menyatakan bahwa “pemrograman menghasilkan mesin yang baru, karena suatu komputer yang memiliki fungsi umum dapat menjadi komputer dengan fungsi khusus begitu komputer tersebut diprogram untuk menjalankan fungsi-fungsi tertentu yang diinstruksikan oleh perangkat lunaknya“.

Terakhir, pengadilan banding memandang bahwa paten ‘545 tidak mengklaim rumus matematika, rangkaian langkah-langkah yang murni meliputi kegiatan mental, maupun konsep-konsep abstrak sejenis lainnya. Yang diklaim di sini adalah suatu metode tertentu untuk mendapatkan penghasilan dari pendistribusian produk-produk media melalui internet, yang memerlukan interaksi secara terkendali dengan konsumen melalui situs internet sehingga tidak dapat dikatakan sebagai kegiatan mental semata.

Dengan pertimbangan tersebut pengadilan banding kemudian memutuskan untuk membatalkan putusan tingkat pertama pengadilan distrik dan memenangkan banding yang diajukan oleh Ultramercial.

Jika ditinjau dari kacamata hukum Indonesia, khususnya berdasarkan UU no.14 tahun 2001 tentang Paten, tentunya kasus ini samasekali tidak dapat diterapkan di tanah air. Baik metode bisnis maupun program komputer telah dengan jelas dinyatakan dalam undang-undang masuk dalam kategori hal-hal yang tidak dapat dipatenkan. Namun demikian kasus ini tetap saja menarik sebagai bahan perbandingan dan pembelajaran, khususnya tentang bagaimana langkah yang diambil oleh lembaga peradilan di Amerika Serikat dalam melakukan analisis terhadap suatu perkara paten, dan juga bagaimana sistem perlindungan paten itu sendiri di Amerika Serikat berkembang tidak hanya melalui UU tapi juga melalui putusan-putusan pengadilan.

Untuk putusan selengkapnya dapat dilihat di sini.

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: