LAWS IN TRANSLATION…

Dulu pernah saya berkeinginan menjadi seorang penerjemah buku-buku berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Biasalah, baru membaca beberapa buku berbahasa Inggris sampai tamat dengan sukses saja sudah besar kepala, merasa bahasa Inggrisnya sudah cukup memadai. Apalagi ketika itu masih jarang buku-buku asing, khususnya sastra dan ilmu-ilmu sosial, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kalaupun ada, banyak yang kualitasnya semenjana, malah terkesan diterjemahkan secara asal-asalan dan sekenanya saja.

Gara-gara banyak terjemahan yang bikin frustrasi itu, makinlah saya kege-eran dan merasa “terpanggil” untuk menjadi penerjemah buku. Dengan stil yakin saya lalu mencoba menerjemahkan The Catcher in the Rye-nya J.D. Salinger yang saya pinjam dari perpustakaan The British Council di Bandung. Mungkin karena “bahan eksperimen” yang ketinggian, ibarat atlit judo ban putih minta diadu lawan Steven Seagal, dan ditambah bahasa Inggris ternyata memang nggak bagus-bagus amat, upaya nekad saya tersebut gagal total. Baru dua halaman pertama, saya sudah merasa hasil terjemahan saya itu samasekali tidak bisa dibaca, dan memasuki kalimat kedua di halaman ketiga, saya pun menyerah. Lebih baik saya meneruskan “karir” sebagai penikmat buku saja dan tidak usah macam-macam mengkhayal jadi seorang penerjemah segala.

Namun satu pelajaran penting yang bisa saya ambil dari upaya penerjemahan yang gagal total tadi, sekarang saya faham kalau “menerjemahkan” bukan kerja main-main. Setiap bahasa yang ada di dunia memiliki cara bertutur tersendiri dengan karakter serta keunikannya masing-masing. Menerjemahkan sebuah teks dari satu bahasa ke bahasa yang lain merupakan pekerjaan yang jauh lebih kompleks daripada sekedar mencari padanan kata demi kata, verbum pro verbo, dalam teks tersebut. Penerjemahan, baik metaphrase (penerjemahan secara literal) maupun paraphrase (penerjemahan kontekstual dimana makna yang sama disajikan dengan bentuk pengungkapan yang berbeda) harus mampu mengkomunikasikan makna dan pesan yang dikandung oleh suatu teks dalam bahasa terjemahan sebagaimana makna dan pesan tersebut dikomunikasikan di dalam teks bahasa aslinya. Kalau tidak, bisa bingung yang baca nanti.

Sebagai contoh kecil, coba bayangkan bagaimana sebaiknya curhatan pegawai rendahan berikut ini harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris:

“Wah, sedikit-sedikit saya, sedikit-sedikit saya, padahal gaji saya tidak naik-naik.”

Kalau diterjemahkan secara metaphrase, hasilnya barangkali akan seperti ini:

“Phew, I have to do this, I have to do that, and yet my salary is never raised.”

Kalau secara paraphrase:

“I wonder why I never receive any increase in my salary if I am to handle so many responsibilities.”

Tapi bayangkan kalau diterjemahkan secara kata demi kata, atau verbum pro verbo, tadi:

Little-little I, little-little I, salary not up-up”….Nah!

Menurut Roger Bacon, untuk menghasilkan terjemahan yang baik seorang penerjemah tidak hanya harus memiliki penguasaan yang lebih dari cukup terhadap kedua bahasa yang dipakai, namun juga harus memiliki pemahaman yang memadai mengenai bidang ilmu dari teks yang akan ia terjemahkan. Satu kesalahan fatal yang saya amati sering dilakukan oleh buku-buku terjemahan lokal adalah penerjemahan istilah Secretary of State, salah satu portfolio dalam kabinet presidensial di Amerika Serikat sana. Bagi mereka yang cukup familiar dengan sistem perpolitikan negerinya si anak Menteng Obama, tentunya faham bahwa jabatan Secretary of State itu kurang lebih sama dengan Menteri Luar Negeri di Indonesia. Toh masih banyak yang menerjemahkan istilah tersebut menjadi “Sekretaris Negara”.

Contoh lain barangkali adalah dalam menerjemahkan judul buku terakhir dari tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca. Istilah “rumah kaca” sebenarnya merupakan padanan baku bahasa Indonesia untuk istilah asing “greenhouse“. Namun seorang penerjemah mesti membaca terlebih dahulu isi novel Pram tersebut untuk tahu bahwa istilah “rumah kaca” di sini dipakai untuk menggambarkan situasi dimana gerak-gerik Minke, sang protagonis, diawasi secara sedemikian ketat oleh pemerintah kolonial, sehingga seolah-olah dirinya hidup dalam sebuah rumah besar yang terbuat dari kaca dan dapat dilihat dari luar oleh siapapun. Dengan demikian, dalam konteks novel ini lebih tepat jika judul Rumah Kaca tersebut diterjemahkan menjadi House of Glass.

Barangkali “tugas berat” yang diemban oleh para penerjemah di atas tadilah yang membuat karya-karya terjemahan, khususnya atas karya-karya sastra, dianggap memiliki nilai intelektual dan kesusastraan tersendiri. Beberapa negara bahkan memiliki anugerah sastra sendiri untuk kategori karya terjemahan. Beberapa nama besar di dunia sastra seperti Vladimir Nabokov , Jorge Luis Borges , Haruki Murakami , dan Abdoel Moeis bahkan menyandang reputasi cemerlang dalam karir mereka sebagai penerjemah.

***

Dari perspektif hukum hak kekayaan intelektual, khususnya hak cipta, karya-karya terjemahan juga diakui memiliki tingkat orisinalitas tersendiri sehingga layak mendapatkan perlindungan hak cipta yang terlepas dari perlindungan hak cipta terhadap karya aslinya.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat 1 huruf (l) UU no.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, terjemahan bersama-sama dengan tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya-karya lain hasil pengalih-wujudan diakui sebagai salah-satu jenis Ciptaan yang dilindungi Hak Cipta. Pada ayat berikutnya di Pasal yang sama, diterangan bahwa perlindungan terhadap karya-karya hasil pengalih-wujudan tersebut diberikan sebagaimana layaknya sebuah Ciptaan yang tersendiri, dan tanpa mengurangi Hak Cipta atas Ciptaan aslinya.

Dari ketentuan UU Hak Cipta tersebut di atas, menurut saya setidaknya terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan terkait urusan hak cipta atas karya terjemahan ini.

Yang pertama adalah meskipun karya terjemahan termasuk dalam objek perlindungan Hak Cipta, namun proses penerjemahan itu sendiri harus dilakukan dengan tetap menghormati Hak Cipta atas karya aslinya. Pasal 2 ayat 1 menyatakan Hak Cipta sebagai hak eksklusif pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya. Sebagaimana yang lebih lanjut diuraikan dalam Penjelasan terhadap Pasal 2 ayat 1 tersebut, “mengumumkan dan memperbanyak” di sini mencakup pula, antara lain, kegiatan menerjemahkan.

Dengan demikian, sesuai dengan ketentuan Pasal ini, sepanjang sebuah karya tulisan dilindungi Hak Cipta dimana perlindungan Hak Ciptanya tersebut masih berlaku, maka setiap orang yang ingin menerjemahkan karya tersebut ke dalam bahasa lain harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemegang Hak Cipta atas karya aslinya itu. Jadi Anda tidak bisa seenaknya main menerbitkan versi terjemahan Anda atas serial novel Harry Potter atau Twilight yang fenomenal itu meskipun Anda yakin hasil terjemahan Anda jauh lebih canggih daripada versi yang sekarang beredar, karena sampai saat ini baik JK Rowlings maupun Stephenie Meyer Alhamdulillah masih segar bugar dan sehat wal-afiat.

Pemberian hak penerjemahan ini merupakan salah satu “hak eksklusif” yang dimiliki oleh Pemegang Hak Cipta berkat Hak Ciptanya tersebut. Dalam melaksanakan hak eksklusif itu, terserah kepada si Pemegang Hak Cipta apakah hak penerjemahan yang diberikan berlaku eksklusif hanya kepada satu penerjemah untuk satu wilayah tertentu, atau memberikannya kepada banyak penerjemah sekaligus di suatu wilayah. Maka itu, jangan heran kalau Anda menemukan banyak versi terjemahan atas suatu karya dimana semua versi tersebut mengklaim sebagai terjemahan resmi, atau authorized translation.

Sebaliknya, tidak sedikit juga karya terjemahan yang terbit di Indonesia yang dihasilkan secara nakalan, curi-curi, tanpa sepengetahuan dan yang pasti tanpa seijin pemegang hak cipta karya aslinya. Yang seperti ini biasanya agak kurang jelas asal-usul penerbitnya, dan penerjemahannya pun kerapkali berantakan. Bukan hal yang aneh memang kalau pemegang hak cipta lazimnya akan menetapkan standar mutu penerjemahan yang baik terhadap siapapun yang ingin meminta hak penerjemahan. Wajar saja, karena tentunya mereka tidak ingin reputasi karyanya menjadi rusak cuma gara-gara diterjemahkan secara serampangan. Nah, bagi mereka yang menerjemahkan secara nakalan tadi, resikonya sudah jelas, yaitu menghadapi tuntutan pelanggaran Hak Cipta.

Kalau Anda memang hobi sekaligus mahir menerjemahkan tapi tidak mau ribet dengan pengurusan hak penerjemahan dari pemegang hak cipta, maka cara amannya adalah dengan menerjemahkan karya-karya yang perlindungan Hak Ciptanya sudah habis, sudah berakhir, dan berada di public domain. Berdasarkan Pasal 29 ayat 1 UU no.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, masa perlindungan Hak Cipta, khususnya untuk karya-karya tulisan, berakhir limapuluh tahun sejak meninggalnya si pencipta. Sebagai informasi saja, di tahun 2010 ini setidaknya akan ada dua sastrawan dunia terkemuka peraih Nobel Kesusasteraaan yang karya-karyanya akan masuk ke public domain dan dapat diterjemahkan oleh siapa saja dengan bebas. Mereka adalah Albert Camus (Perancis) dan Boris Pasternak (Rusia), yang mana keduanya meninggal dunia pada tahun 1960.

***

Hal kedua yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa karya terjemahan mendapatkan perlindungan Hak Cipta yang berdiri sendiri, terlepas dari perlindungan Hak Cipta terhadap karya aslinya. Manakalah sebuah karya tulis habis masa perlindungan Hak Ciptanya dan memasuki public domain, maka konsekuensinya adalah semua orang bisa melakukan penerjemahan karya tersebut tanpa harus meminta ijin dari siapapun. Tapi lantas bagaimana ceritanya kalau penerjemahan tersebut dilakukan tidak langsung berdasarkan karya aslinya, melainkan diterjemahkan lagi dari terjemahan karya asli tersebut.

Bingung? Keriting keriting deh lu….hehehe…

Oke, ambillah saja contoh buku Mein Kampf karya diktator NAZI Jerman Adolf Hitler, yang konon ditulis semasa ia mendekam di penjara sebagai napi politik di Munich pada sekitar tahun 1920-an, yang kemudian menjadi “kitab suci” bagi para pemuja fasis dan nasional-sosialisme. Buku ini, meskipun penjualannya dilarang di banyak negara termasuk di Jerman sendiri, nyatanya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia. Untuk terjemahan bahasa Inggrisnya sendiri terdapat beragam versi mulai dari John Dugdale, James Murphy, Alan Cranston hingga Ralph Mannheim.

Sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler, sang penulis buku, sukses membunuh dirinya sendiri di dalam bunker di kantornya di kota Berlin yang sudah dikepung oleh pasukan Sekutu pada tanggal 30 April 1945. Baik di Jerman maupun di Amerika Serikat , Hak Cipta atas buku atau karya tulis lainnya berlaku hingga 70 tahun setelah meninggalnya si pencipta, dan ini berarti Mein Kampf baru akan masuk public domain pada tahun 2015 nanti. Untuk Indonesia, perlindungan Hak Cipta atas Mein Kampf jelas sudah berakhir, lha wong sudah lewat limapuluh tahun dari ko’it-nya si kumis nyentrik itu tahun sejak 1995 yang lalu kok. Jadi kalau Anda sudah kelar les bahasa Jerman di Goethe Institute dan ingin menjajal kemampuan Anda misalnya, silakan saja menerjemahkan buku tersebut secara bebas.

Tapi bakalan lain soalnya kalau Anda cuma bisa berbahasa Inggris dan Mein Kampf berbahasa Indonesia versi Anda itu tidak Anda terjemahkan dari bahasa Jerman aslinya, melainkan dari terjemahan Mein Kampf dalam bahasa Inggris karya penerjemah-penerjemah yang saya sebut di atas tadi. Anda harus lebih berhati-hati, karena meskipun perlindungan hak cipta atas Mein Kampf-nya sendiri sudah berakhir, belum tentu berakhir pula untuk karya-karya terjemahan bahasa Inggrisnya.

Berdasarkan Pasal 29 ayat 1 UU no.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, masa perlindungan Hak Cipta untuk karya terjemahan di Indonesia sama saja dengan masa perlindungan Hak Cipta untuk buku maupun karya tulis asli lainnya, yaitu sampai 50 tahun sejak meninggalnya sang pencipta. Ini berarti kalau Anda ingin menerjemahkan terjemahan bahasa Inggris dari Mein Kampf ke dalam bahasa Indonesia secara bebas, paling-paling yang bisa Anda pergunakan adalah terjemahan Mein Kampf versi James Murphy yang meninggal dunia tahun 1946. Sedangkan untuk versinya Dugdale (meninggal tahun 1964) atau Ralph Manheim (1992), Anda mesti minta ijin dulu atau menunggu sampai masa perlindungannya habis.

Memang sih, belum tentu juga orang bisa membedakan apakah versi Anda tadi merupakan terjemahan langsung dari Mein Kampf asli Jerman atau diterjemahkan lagi dari versi bahasa Inggrisnya. Kan kalau Anda digugat oleh si penerjemah bahasa Inggris, Anda bisa saja ngeles dan berdalih bahwa Anda memang jago bahasa Jerman dan menerjemahkan buku itu langsung dari bahasa Jermannya, dan untuk membuktikan sebaliknya bisa jadi akan sangat susah.

Namun demikian, berhubung setiap penerjemah memiliki persepsi, cara dan gaya tersendiri yang khas dalam melakukan penerjemahan, meskipun sangat sulit tetapi bukan hal yang mustahil untuk dibuktikan bukan?

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

9 Responses to LAWS IN TRANSLATION…

  1. Andy says:

    Luar biasa… uraian anda sangat mendetail. Tentu banyak membantu mereka yang belum paham soal UU Hak Cipta.
    Bagaimana mulai membahas HKI lain seperti Hak Paten, merek dagang, desain industri dst… Akan sangat menarik seperti tulisan sekarang, yaitu dengan menggunakan contoh-contoh nyata.

    • psetiadharma says:

      Terimakasih atas komentar Anda. Saya sangat senang apabila tulisan saya dalam blog ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, terlebih dalam memahami lebih jauh mengenai Hak Cipta maupun rejim HKI lainnya.

      Saya juga sudah menulis beberapa topik lain dalam blog ini terkait dengan isu-isu HKI khususnya Hak Cipta dan Paten, dan rencananya akan juga mencakup isu-isu HKI lainnya dalam tulisan-tulisan mendatang. Sebagai informasi, buku yang berisi kumpulan tulisan dalam blog ini rencananya juga akan diterbitkan pada bulan Mei yang akan datang.

      Sekali lagi saya ucapkan terima-kasih atas perhatian dan komentar Anda.

  2. Tari says:

    Pak Yudi,

    Apa kabar? Thanks for adding me on Linked. Jadinya gak sengaja stumble upon this greeeeaaaaaatttttt post. Ten thumbs up!

    Keep in touch, pak. Keep up the good work.

  3. Tari says:

    Btw, ijin aku share ke notes FB aku boleh gak? I have a community of translators that need to know this.

    Cheers!

    • psetiadharma says:

      Wah Bu Tari, kabar baik alhamdulillah…bu Tari gimana kabarnya? Oya kalo bu Tuti gimana kabarnya juga?
      Kalau soal tulisan di blog ini sebenarnya sudah diterbitkan jadi buku, judulnya “Mari Mengenal HKI”, isinya kumpulan tulisan yang ada di blog ini. Baru aja terbitnya kok, mungkin sudah ada di Gramedia. Jadi kalau dishare ke notes saya khawatir nanti dicomplain sama penerbitnya…hehehe…lagian ini juga dulu pernah saya share di fb saya juga.
      Blog Catatan HKI ini sendiri rencananya juga bakal saya lanjutkan dengan tulisan-tulisan yang lain, tapi di alamat blog yg baru, catatanhki.wordpress.com, ditunggu aja kelanjutannya ya Bu.
      Makasih…

      • psetiadharma says:

        Oya kalau mau dishare ke translator community lewat e-mail masing2 aja bu, jangan lewat fb..biar lebih private.

  4. Tari says:

    waaaaah…..hebaaaaat…..dah jg buku….mantap…

    bgmn kl aku share dr notes FB mas yudi aja?…palingan cuman laws on translation aja, yg relevan dgn my occupation….kl buku, ntr aku cari di gramed deh…

    email msg2 juga boleh….nanti mas aku cc deh…whts ur email address anyway?

  5. Seneng banget baca artikel-artikel kayak gini. Jadi nambah wawasan dan ilmu. Makasih mas atas sharingnya.
    Kalau sempat mampir juga ya ke Penerjemah Mitra Indonesia
    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: