WALAU BERBEDA TAPI TETAP RANCU JUA: ANTARA PLAGIARISME DAN PELANGGARAN HAK CIPTA

Ada teman bertanya pada saya, bukan soal buat apa berlapar-lapar puasa atau tadarus-tarawih apa gunanya seperti yang ada di lagu Bimbo, melainkan soal perbedaan antara pelanggaran Hak Cipta dengan Plagiarisme.

Teman tersebut kebetulan tengah mengerjakan skripsi soal dugaan pelanggaran Hak Cipta terkait penjiplakan gambar pada suatu produk cindera mata. Konon katanya, ia mendapatkan masukan dari salah satu sumber bahwa situasi yang serupa dengan kasus yang sedang ia jadikan bahan skripsi tadi sebenarnya adalah bentuk Plagiarisme. “Bisikan” ini lantas membuatnya bingung, lebih bingung daripada seorang presiden yang dibisiki oleh tukang pijatnya, karena meskipun ia sudah sering mendengar istilah “plagiarisme” sebelumnya ternyata pengaturan mengenai Plagiarisme tadi tidak dapat ia temukan dalam UU Hak Cipta maupun UU HKI manapun. Yang dikhawatirkan adalah, tentu saja, hal ini akan membuat pembahasan kasusnya menjadi rancu.

Kebingungan tadi tentunya bukan monopoli teman saya sendiri saja karena memang banyak yang masih sulit membedakan antara Pelanggaran Hak Cipta dan Plagiarisme. Wajar saja, karena toh dalam kehidupan sehari-hari keduanya memang kerap bersinggungan satu sama lain dan timbul pada satu peristiwa yang sama, sehingga banyak kasus-kasus plagiarisme yang mengandung pula unsur-unsur pelanggaran Hak Cipta dan demikian pula sebaliknya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menuntaskan kebingungan teman saya dan juga orang-orang lain yang senasib dengannya tadi. Karena toh saya tidak menjamin kalau Anda yang sedang bingung lalu membaca tulisan ini, Anda tidak akan malah bertambah bingung dibuatnya. Saya hanya ingin sedikit berbagi soal apa yang saya ketahui tentang perbedaan antara plagiarisme dan pelanggaran hak cipta, dan bagaimana menarik batas yang jelas manakala keduanya saling bersinggungan satu sama lain. Yang jelas, saya jamin seratus persen bahwa tulisan saya ini bukan hasil plagiat maupun melanggar hak cipta siapapun…

***

Plagiarisme dapat diartikan sebagai “false claim of authorship”. Dalam pengertian ini, plagiarisme terjadi manakala seseorang mengambil ide, gagasan atau karya yang dihasilkan oleh orang lain dan mengakuinya sebagai ide, gagasan atau karyanya sendiri. Contoh dari perbuatan plagiat – istilah untuk pelaku plagiarisme – ini tentunya sudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, kalau bukan malah kita sendiri yang sering jadi plagiat.

Jaman sekolah dulu, misalnya, anda pernah mencontek? Atau ketika masih mahasiswa , pernahkah Anda meminjam soft-copy tugas kuliah yang dibuat oleh teman Anda yang calon cum-laude untuk Anda copy-paste dengan sedikit modifikasi pada jenis font yang dipakai sebelum dikumpulkan pada dosen sebagai tugas Anda sendiri? Kalau jawabannya ya, selamat! Artinya Anda setidaknya pernah punya pengalaman sekali sebagai plagiat, dan jangan bête atau marah-marah kalau seandainya dalam meeting di kantor pagi ini salah seorang kolega Anda yang terkenal nyebelin dan penjilat tiba-tiba mempresentasikan ide cemerlang milik Anda yang tanpa sengaja Anda beberkan sendiri sambil setengah mabuk saat pulang clubbing bareng tadi malam. Kalau Anda percaya karma, mungkin itu adalah ganjaran atas betapa “plagiat”-nya Anda semasa sekolah dulu…

Salah satu tempat dimana plagiarisme tumbuh dengan cukup subur bagaikan tanaman eceng gondok waduk Saguling barangkali adalah di industri hiburan seperti musik, film atau televisi. Kalau mau didengar semua, mungkin banyak sudah insan perfilman dan pertelevisian Indonesia yang pada merah kupingnya gara-gara kerap dituding memplagiat karya-karya asing baik berupa film, sinetron maupun program-program tayangan hiburan lainnya. Tak ketinggalan sejumlah musisi tanah air yang dicap sebagai plagiat kronis gara-gara lagu hitsnya banyak yang “mirip-mirip” sama lagu-lagu asing. Untungnya para seniman kita itu tadi cukup tabah dan cuek-cuek saja menerima segala tuduhan dan hujatan tersebut, toh yang penting rating acara maupun angka penjualan ring-back tone lagunya tetap tinggi, kan?

Marilah kita kesampingkan dulu perdebatan mengenai apakah para pelaku industri hiburan kita banyak yang plagiat atau tidak. Yang jelas plagiarisme itu sendiri merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap norma sosial, khususnya nilai-nilai yang berlaku di masyarakat terkait dengan soal kejujuran. Dengan melakukan plagiarisme, seseorang telah berbuat tidak jujur karena mengakui sesuatu yang bukan miliknya, bukan hasil karyanya.

Karya plagiat, atau karya jiplakan, harus dibedakan dengan karya saduran maupun karya adaptasi. Pada karya saduran dan adaptasi, selain pencipta aslinya tetap diakui, dalam melakukan penyaduran maupun pengadaptasian si pelaku memberikan nilai tambah tertentu terhadap karya tersebut. Dengan demikian, secara kualitas karya saduran atau adaptasi akan memperkaya khasanah budaya berdasarkan karya asal yang menjadi sumbernya tadi. Sebagai contoh adalah lagu My Way yang disadur oleh Paul Anka dari sebuah lagu Perancis berjudul Comme D’habitude, adaptasi novel The Godfather karya Mario Puzo menjadi film oleh Francis Ford Coppola, atau sutradara Martin Scorsese yang mengadaptasi film Hong Kong Infernal Affairs yang dibintangi oleh Tony Leung dan Andy Lau menjadi The Departed.

Berbeda dengan karya adaptasi, selain tidak mengakui dari mana sumbernya, karya plagiat biasanya memiliki kualitas yang cenderung inferior, sehingga alih-alih memberikan nilai tambah, yang ada malah distorsi yang mengganggu. Masyarakan dalam hal ini tentunya akan dirugikan, apalagi ditambah dengan adanya “kebohongan” dari si pelaku, sehingga secara umum plagiarisme merupakan tindakan yang dipandang negatif dan tidak dapat diterima. Sebagai pelanggaran norma sosial, pelaku plagiarisme yang ketahuan biasanya akan menerima sanksi sosial yang beraneka ragam, mulai dari cemoohan sampai kecaman atau bahkan pengucilan, dan bisa bertambah lagi dengan sanksi administratif manakala “dosa” tersebut dilakukan dalam lingkungan institusi akademik ataupun pers. Wakil Presiden Amerika Serikat saat ini, Joe Biden, malah pernah menerima kecaman keras sampai-sampai ia harus menarik diri dari kampanyenya untuk menjadi kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat di tahun 1988 gara-gara terungkap kalau dia pernah tersangkut urusan plagiarisme semasa kuliah di fakultas hukum dulu, dan ditambah lagi sebagian isi dari pidato kampanyenya ketahuan menjiplak pidato beberapa politisi lain.

Adapun pelanggaran Hak Cipta adalah bentuk pelanggaran terhadap norma hukum yang ditetapkan oleh negara, yaitu dalam hal ini UU no.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, yang telah memberikan perlindungan hak cipta kepada setiap pencipta dalam bentuk hak eksklusif yang berlaku selama jangka waktu tertentu untuk memperbanyak dan/atau mengumumkan ciptaannya. Hukum mengatur demikian karena negara berpandangan bahwa setiap pencipta telah memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui karya-karya mereka di bidang seni, sastra atau ilmu pengetahuan sehingga mereka layak mendapatkan penghargaan berupa hak eksklusif tadi. Manakala ada pihak lain yang mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan tanpa seijin si pencipta atau pemegang hak cipta, maka berarti telah terjadi pelangaran hak cipta yang dapat berakibat pada timbulnya sanksi hukum, baik secara perdata melalui gugatan ganti kerugian maupun secara pidana berupa penjara atau denda.

Dari sini terlihat bahwa selain plagiarisme dan pelanggaran hak cipta bersumber dari dua sistem kaidah dan norma yang berbeda, perbedaan juga terletak pada kepentingan siapa yang dirugikan oleh masing-masing perbuatan tadi. Kalau para plagiat baik secara langsung atau tak langsung merugikan masyarakat karena yang telah menjadi korban “kebohongan” mereka tersebut, maka para pelanggar hak cipta secara langsung merugikan kepentingan si pencipta atau pemegang hak cipta atas pemakaian ciptaan mereka secara ilegal tersebut.

Di sisi lain, meskipun terdapat beberapa unsur yang membedakan antara plagiarisme dan pelanggaran hak cipta, toh keduanya tetap terkait erat oleh satu benang merah: adanya penggunaan hasil karya orang lain oleh si pelaku. Karena itu sangatlah wajar apabila plagiarisme dan pelanggaran hak cipta timbul secara bersamaan, meskipun tidak semua aksi plagiarisme mengandung pula pelanggaran hak cipta, atau sebaliknya.

Seorang produser film atau musisi bisa dituding melakukan plagiarisme manakala ia diduga menjiplak film atau lagu karya orang lain. Kalau benar memang ia melakukan penjiplakan sebagaimana yang dituduhkan tadi, berarti ia telah mengambil dan menggunakan karya orang lain dalam karyanya sehingga bukan tidak mungkin terdapat juga pelanggaran Hak Cipta di sana. Dalam hal ini, ada satu prinsip dasar yang harus diingat, bahwa manakala plagiarisme mencakup pula penjiplakan terhadap ide maupun gagasan, di sisi lain hak cipta hanya melindungi ekspresi dari suatu ide atau gagasan dan bukan ide atau gagasan itu sendiri.

Dengan demikian, haruslah dilihat terlebih dahulu sejauh atau sedalam apakah penjiplakan tersebut dilakukan. Penjiplakan terhadap ide-ide atau konsep-konsep dasar seperti misalnya kasih tak sampai, kawin paksa atau perselingkuhan tidaklah menimbulkan pelanggaran Hak Cipta. Bagaimana menentukan pemisahan antara ide dan ekspresi dalam suatu ciptaan itu soal lain, perlu pembahasan yang terpisah karena cukup njelimet dan panjang lebar.

Toh sekalipun penjiplakan dilakukan dengan begitu dalam dan detail sampai kepada bagian yang sangat substansial dari suatu karya, misalnya kalau ada lagu dijiplak secara persis dari not ke not dengan hanya mengganti liriknya saja, atau kalau film hanya mengganti setting lokasi dan nama-nama tokohnya saja, belum berarti si penjiplak telah pula melanggar hak cipta. Bisa jadi karya yang dijiplak tersebut adalah karya yang masa perlindungan hak ciptanya sudah berakhir sehingga telah menjadi milik umum/public domain. Contohnya adalah apabila yang dijiplak adalah karya-karya mereka yang sudah meninggal dunia lebih dari 50 tahun lamanya seperti Shakespeare, Beethoven, atau WR Supratman.

Atau, bisa pula si plagiat sudah memenuhi syarat terpenting agar pelanggaran hak cipta tidak terjadi: mendapatkan izin atau lisensi dari si pencipta untuk membuat jiplakan dari karyanya tersebut. Hal serta sah-sah saja dilakukan, karena memang secara hukum dimungkinkan, apalagi kalau hitung-hitungan komersialnya masuk, meskipun belum tentu memuaskan jika dipandang dari dari sisi intelektualitas atau kreativitas.

Sebaliknya, bukanlah hal yang sulit untuk menemukan contoh terjadinya pelanggaran hak cipta tanpa ada unsure plagiarisme di dalamnya. Para pembajak lagu atau film misalnya, secara ilegal mengumumkan dan memperbanyak karya milik orang lain tanpa mengakui karya yang dibajak tadi sebagai karyanya sendiri. Kalau anda menyambangi lapak-lapak penjual CD dan DVD bajakan di Glodok, saya berani bertaruh anda tidak akan menemukan satupun DVD film yang nama sutradaranya diganti dengan nama si pembajak atau si pemilik lapak. Kalaupun ada pembajak yang cukup pede melakukannya, itu sama saja bunuh diri menghancurkan bisnisnya sendiri, karena toh yang dicari orang adalah lagu Laskar Pelangi ciptaan Nidji dan bukan ciptaannya si Acong, si Ujang atau entah siapa lagi yang lainnya…..

***

Pendek kata, supaya jangan bingung, ingat saja tiga unsur dasar untuk menentukan apakah telah terjadi pelanggaran hak cipta berikut ini:
1) Bahwa ada Ciptaan yang dilindungi Hak Cipta dimana masa perlindungannya masih berlaku;
2) Bahwa ada bagian substansial dari Ciptaan tersebut yang diumumkan dan/atau diperbanyak, dan
3) Bahwa pengumuman dan/atau perbanyakan tersebut dilakukan tanpa seijin dari si pencipta atau pemegang hak cipta, dan tidak termasuk ke dalam penggunaan yang dibenarkan (fair use) menurut ketentuan UU Hak Cipta.

Manakala ketiganya terpenuhi, voila kalau kata orang Perancis, ada pelanggaran hak cipta disitu. Sebaliknya, tanpa adanya ketiga unsur tadi, maka secanggih apapun penjiplakan dilakukan tidak menjadi urusan hukum, kecuali mungkin terkait pelanggaran hak moral karena dikesampingkannya nama si pencipta. Tapi meskipun demikian, tetap saja perbuatan plagiat seperti menjiplak, mencontek atau apapun namanya bukanlah kebiasaan yang baik untuk dilakukan, apalagi dipelihara dan dikembangkan.

Akhirnya, mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu Anda supaya tidak lagi bingung membedakan antara plagiarisme dan pelanggaran hak cipta. Tapi kalaupun Anda tetap atau malah makin bingung, ya sudahlah dinikmati saja, toh masih mendingan bingung rame-rame daripada bingung sendirian kan?…;p

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

One Response to WALAU BERBEDA TAPI TETAP RANCU JUA: ANTARA PLAGIARISME DAN PELANGGARAN HAK CIPTA

  1. fahmi says:

    mhon ijin di copy bleh,,
    kbtlan tgas akher sya mngenai plagiarisme hak cipta,, dan saya btuh bhn sbyak2nyaa,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: