“CONNECTING PATENT” DAN iPHONE YANG TERGUGAT

Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan oleh sebuah berita di situs warta internet reuters.com. Bagaimana tidak kaget coba? Pesawat telepon seluler iPhone seperti yang saya pergunakan sehari-hari, darimana berita tersebut jelas-jelas sedang saya baca, dituduh mengandung fitur-fitur teknologi yang melanggar beberapa paten milik Nokia, sang raksasa telepon seluler asal Swedia itu.

Tidak tanggung-tanggung, Nokia menuduh ketiga generasi iPhone – mulai dari GSM, 3G hingga 3GS yang baru saja dirilis – melanggar sekitar 10 paten di bidang teknologi komunikasi seluler milik mereka. Keterangan resmi yang dirilis oleh Nokia melalui website mereka menyatakan bahwa paten-paten tersebut terkait dengan teknologi GSM, UMTS dan WLAN, yang mencakup pengiriman data nirkabel, speech coding, dan pengamanan serta enkripsi data; yang mana keseluruhannya telah dipergunakan juga oleh iPhone sejak awal peluncuran produk tersebut tanpa adanya kompensasi yang memadai. Untuk itu, Nokia menyatakan telah mengajukan gugatan pelanggaran paten terhadap Apple, Inc. ke Pengadilan Federal AS di Negara Bagian Delaware.

iPhone mungkin memang bisa disebut sebagai salah-satu produk Apple Inc. yang paling fenomenal sepanjang sejarah perusahaan yang berbasis di Cupertino, California, itu. Sejak diluncurkan untuk pertama kalinya dalam versi GSM di tahun 2007 hingga saat ini, tak lama setelah peluncuran versi 3GS-nya, diperkirakan sudah ada 34 juta unit iPhone yang dilempar ke pasaran di sekitar 21 negara di dunia. Berdasarkan hitung-hitungan jumlah pesawat yang diproduksi inilah besarnya kerugian Nokia dapat diasumsikan oleh banyak pengamat, sehingga apabila gugatan pelanggaran paten tadi dikabulkan oleh pengadilan maka diperkirakan Apple Inc. harus membayar ganti rugi dengan jumlah yang cukup fantastis: 200 juta hingga 1 milyar dolar Amerika!

Di sisi lain, memang harus diakui bahwa Nokia merupakan industri komunikasi seluler yang paling inovatif di dunia. Ini bukan sekedar rumor atau pujian kosong belaka, karena jujur saja saya sendiri tidak menjadikan perusahaan tersebut sebagai pilihan saya untuk merek telepon seluler yang saya pakai. Sejak saya pertama kali menggunakan ponsel pada tahun 1998 hingga sekarang, mungkin sudah ada 10 jenis ponsel yang saya pakai, dimana hanya ada dua Nokia di antaranya. Mungkin karena terlalu “sejuta umat” buat saya, yang jelas saya bukanlah penggemar merek yang satu itu.

Tapi kalo soal inovasi, sejak dulu saya berani angkat topi untuk Nokia. Dalam situs resmi mereka diklaim bahwa pada dua dekade terakhir saja perusahaan tersebut telah menghabiskan anggaran sebesar 40 Milyar Euro untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) saja. Hasilnya, saat ini Nokia memiliki sekitar 10,000 buah hak paten di bidang teknologi komunikasi seluler.

Dalam statistik yang dikeluarkan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO), Nokia sejak beberapa tahun terakhir ini hampir selalu memimpin jumlah permohonan paten internasional (PCT) yang diajukan untuk invensi di bidang teknologi komunikasi selular. Di tahun 2008 saja ada 1,005 permohonan PCT yang diajukan oleh Nokia sendiri, kurang lebih seperempat dari jumlah seluruh permohonan paten yang diajukan ke Ditjen HKI pada tahun yang sama. Bersama-sama dengan Ericsson, Qualcomm dan Motorola; perusahaan ini selalu berada di 20 besar pemohon PCT secara keseluruhan.

Ini terus terang merupakan kabar buruk buat Apple Inc. Sebuah lembaga analis industri seluler di Amerika Serikat bahkan menyatakan kalau saat ini hampir tidak mungkin ada orang yang bisa memproduksi telepon seluler tanpa menggunakan teknologi yang patennya masih aktif dan dimiliki oleh Nokia. Sebagai pemain baru di dunia seluler, Apple semestinya tahu akan hal tersebut. Apalagi Apple sendiri juga dikenal sebagai jagonya berinovasi, khususnya dalam teknologi komputer baik menyangkut perangkat keras maupun perangkat lunak sehingga kerap membuat Bill Gates deg-degan.

Lantas benarkah Apple yang merupakan anak bawang dalam industri seluler sampai sedemikian bodoh dan ceroboh pada saat akan memproduksi iPhone yang fenomenal itu? Sumber Ericsson menyatakan bahwa perusahaan mereka telah memiliki perjanjian lisensi paten dengan Apple. Tapi sebaliknya, seperti yang disampaikan oleh Nokia dalam gugatan mereka, Apple menolak beberapa kali tawaran harga yang diajukan oleh Nokia sebagai kompensasi atas lisensi yang diberikan untuk paten-paten mereka tersebut.

***

Saya tidak bermaksud untuk membela Apple, apalagi karena saya merupakan pengguna produk iPhone mereka dan saya tidak suka Nokia. Bukan begitu maksud saya. Biar bagaimanapun, membuat produk dengan melanggar paten orang lain adalah tindakan bisnis yang tidak dapat dibenarkan secara hukum, apalagi untuk perusahaan sekelas Apple yang kejayaan dan ketenarannya selama ini juga dibangun atas dasar inovasi-inovasi yang mereka hasilkan.

Tapi saya hanya ingin mencoba melihat kasus ini dari sisi lain, yang mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita di Indonesia yang juga sedang merintis pembangunan ekonomi berbasis inovasi dengan memanfaatkan sistem perlindungan HKI, khususnya paten.

Kalau boleh saya analisis, apa yang terjadi dalam kasus sengketa paten antara Nokia vs Apple ini bisa jadi merupakan dampak tidak langsung dari praktek cross-licensing serta patent-pooling yang memang lazim terjadi dalam bidang paten khususnya di Amerika Serikat sana.

Cross-licensing terjadi manakala dua atau lebih perusahaan yang sama-sama menghasilkan paten sepakat untuk saling melisensikan paten-paten mereka satu sama lain. Dengan demikian perusahaan- perusahaan tersebut bisa menghemat baik biaya R&D maupun biaya lisensi yang bisa sangat mahal jika dilakukan secara “eceran” tanpa melalui kesepakatan semacam ini. Perusahaan-perusahaan yang sedang mengembangkan teknologi yang sama, serupa atau saling terkait kerap bekerja-sama melalui mekanisme cross-licensing ini.

Adapun patent-pooling merupakan kelanjutan dari cross-licensing, dimana perusahaan-perusahaan yang telah sepakat untuk saling melisensikan paten-paten mereka tersebut lalu membentuk semacam konsorsium yang mewadahi paten-paten mereka untuk digunakan demi kepentingan bersama. Sebuah contoh dari kebijakan patent-pooling yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah teknologi MPEG2 yang menjadi salah-satu standar pemutaran audio-visual yang banyak dipergunakan dewasa ini, khususnya pada media DVD. Teknologi MPEG2 ini terdiri dari sekitar 640 paten yang dimiliki oleh lebih dari 20 perusahaan serta sebuah universitas, dimana paten-paten tersebut kemudian dikumpulkan dan dikelola bersama dalam sebuah konsorsium yang disebut dengan MPEG Licensing Authority.

Baik cross-licensing maupun patent-pooling sah-sah saja dilakukan sebagai bentuk sinergi di antara perusahaan-perusahaan yang memiliki kepentingan yang sama meskipun sejatinya satu sama lain adalah kompetitor bisnis. Cross-licensing dan patent pooling justru bisa bermanfaat mencegah apa yang dinamakan dengan patent-blocking, yaitu keadaan dimana suatu paten tidak bisa diaplikasikan karena memerlukan pengaplikasian paten milik pihak lain yang tidak mau melisensikan patennya tersebut dengan tujuan untuk menghalangi penerapan dan pengembangan produk dari kompetitornya. Hanya saja apabila tidak berhati-hati, praktik-praktik semacam cross-licensing dan patent-pooling ini berpeluang untuk menumbuhkan persaingan tidak sehat, perilaku usaha yang curang serta anti-kompetisi, dengan kemungkinan timbulnya kartel atau semacamnya kelak.

Dalam industri seluler tentunya aktifitas yang serupa juga bukan merupakan hal yang asing. Meskipun mereka sering terlihat bersaing sengit di tayangan-tayangan reklame, nama-nama yang sudah lama merajai industri ini seperti Nokia, Ericsson, Qualcomm dan Motorola pun saling melisensikan paten mereka satu sama lain, sehingga biaya royalti atas lisensi paten di antara pemain-pemain lama jadi bisa ditekan serendah mungkin. Barangkali hanya sekian persen saja dari harga setiap pesawat yang mengandung paten yang dilisensikan tersebut.

Yang jadi masalah disini sekarang, meskipun Apple merupakan nama yang sudah memiliki nama besar di dunia industri perangkat lunak dan perangkat keras komputer, di dunia industri seluler ia adalah pemain baru, anak bawang yang masih ingusan. Meskipun tidak pernah tersurat, sudah menjadi rahasia umum memang kalau para pendatang baru di industri tersebut mesti membayar biaya royalti yang cukup tinggi untuk mendapatkan lisensi atas paten-paten yang dimiliki oleh para pemain lama, dimana hal ini lazim dilakukan dengan tujuan membendung masuknya kompetitor baru ke pasar yang relatif sudah sangat gemuk itu.

Apalagi sebagai pemain baru yang masih awam dalam rekayasa teknologi di bidang komunikasi seluler, Apple tidak memiliki banyak portofolio paten terkait dengan bidang tersebut dimana hal ini menjadi titik lemah bagi mereka dalam menegosiasikan kesepakatan cross-licensing dengan produsen perangkat seluler lainnya yang lebih senior. Untuk paten terkait teknologi 3G misalnya, royalti yang harus dibayar oleh pendatang baru seperti Apple rata-rata adalah sekitar 15% dari harga jual setiap unit ponsel 3G yang menggunakan paten yang dilisensikan tersebut.
Padahal sebagai pendatang baru kiprah Apple sangatlah fenomenal, dimana meskipun baru diluncurkan tahun 2007 saat ini iPhone sudah menguasai 15% dari pangsa pasar smartphone, sementara di pangsa pasar yang sama Nokia sendiri mengalami penurunan pada kwartal ketiga 2009 menjadi 35% dari sebelumnya pada kwartal kedua tahun yang sama sebesar 41%. Dengan raihan Apple yang begitu luar biasa sementara prestasi Nokia sedang jeblok, saya rasa memang tidak ada waktu yang lebih tepat lagi selain sekarang bagi Nokia untuk “mengeluarkan senjata pamungkas” mereka dan memaksa Apple merelakan limabelas persen dari harga jual setiap produk iPhone yang sudah diproduksi dan dilempar ke pasar

***

Hak Paten yang diberikan oleh negara kepada setiap inventor yang invensinya memenuhi syarat untuk dipatenkan dapat digolongkan sebagai suatu bentuk monopoli karena memberikan hak kepada si pemegang hak paten untuk mempergunakan invensinya itu secara eksklusif hingga duapuluh tahun sejak tanggal penerimaan permohonan paten. Meskipun demikian, monopoli dalam paten dan hak-hak kekayaan intelektual lainnya merupakan bentuk monopoli yang diperbolehkan berdasarkan UU, sebagaimana tertuang dalam Pasal 50 UU no.5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pengecualian ini dikarenakan HKI memiliki fungsi penting tidak hanya sebagai bentuk perlindungan hak asasi bagi setiap manusia terhadap hasil karya intelektual yang ia hasilkan, namun juga sebagai bentuk penghargaan serta insentif atas upaya menghasilkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi umat manusia.

Namun dalam praktek, apabila tidak diawasi secara seksama, implementasi dari perlindungan HKI khususnya Paten bisa saja melebar sehingga mengakibatkan terjadinya diskriminasi serta persaingan yang tidak sehat, yang bisa saja tidak tersentuh oleh hukum antimonopoli sebagaimana yang terjadi dalam kasus di atas tadi. Tidak ada UU tentang Paten, sebagaimana juga UU mengenai HKI lainnya, dimanapun yang bicara detil mengenai besaran royalti yang berhak dipungut oleh pemegang hak dari pihak yang mendapatkan lisensi atas hak tersebut. Semua UU HKI hanya bicara umum saja: bahwa merupakan hak dan wewenang penuh dari si pemegang hak untuk mengijinkan atau tidak mengijinkan seseorang/suatu pihak, dengan atau tanpa syarat apapaun, untuk ikut menikmati hak eksklusif yang ia miliki. Walhasil, seperti dalam kasus ini, sah-sah saja apabila Nokia, Ericsson atau Motorola “berbaik hati” memungut royalti yang rendah kepada satu sama lain misalnya, dan sebaliknya “mencekik” leher pemain-pemain baru seperti Apple.

Sejauh ini, praktek di atas meski menimbulkan efek persaingan yang tidak sehat tetapi nyatanya sukar dijangkau oleh ketentuan-ketentuan antimonopoli yang ada, apalagi sepanjang kebijakan pemungutan royalti yang terkesan diskriminatif tadi tidak pernah diformalkan sebagai suatu kesepakatan tertulis di antara pelaku-pelaku usaha tersebut. Saya pikir keadaan ini bisa menjadi pelajaran yang cukup berharga bagi kita di Indonesia yang sedang mulai membangun sistem perlindungan HKI yang kuat, dimana upaya tersebut idealnya dibarengi juga dengan penguatan sistem pengawasan antimonopoli khususnya pada segi-segi yang bersinggungan dengan perlindungan HKI. Dengan demikian, akan dapat ditarik garis yang jelas antara perilaku usaha mana saja yang masih termasuk dalam monopoli yang diperbolehkan dalam cakupan perlindungan eksklusif HKI dengan yang sudah terlalu melebar dan tidak lagi proporsional sehingga mengakibatkan timbulnya praktek persaingan yang tidak sehat.

Kalau tidak begitu, maka pasar dan masyarakat luaslah yang akan dirugikan karena pelaku-pelaku usaha yang baru akan terhalang untuk masuk sedangkan para raksasa pemain lama bisa dengan gagahnya bisa petentang-petenteng sambil bilang: Mau apa lo? Paten-paten gua kok…!

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: