ANTARA MAIN GAMELAN DAN INVENSI PATEN

Dalam sebuah obrolan santai saat rehat kopi di ruangan kami di kantor beberapa waktu yang lalu, kami sempat mengobrol tentang alat-alat musik tradisional Indonesia yang sempat kami pelajari saat masing-masing dari kami duduk di bangku sekolah dasar dulu. Salah-seorang dari kami yang kebetulan berasal dari Solo, Jawa Tengah, kemudian menceritakan kekagumannya pada para pemain gamelan Jawa, khususnya mereka yang menjadi penabuh Saron dan Demung.

Sekedar informasi, Saron dan Demung adalah dua jenis instrumen dalam satu set gamelan jawa yang dimainkan dengan menabuh secara bergantian sesuai nada yang ingin dihasilkan lempengan-lempengan besi yang disusun secara berjajar. Yang membuat rekan saya tadi kagum adalah dalam memainkan kedua jenis instrumen tradisional ini diperlukan kesigapan dan koordinasi yang baik dari kedua tangan si penabuh, karena saat sebelah tangan yang memegang tabuh berpindah untuk menabuh lempeng besi yang lain untuk menghasilkan nada berikutnya, maka tangan yang satu lagi harus segera menekan lempeng yang dipukul sebelumnya – istilah Jawanya memathet atau memencet. Tujuannya jelas, yaitu untuk meredam sisa getaran lempeng tersebut akibat ditabuh sebelumnya sehingga tidak akan ada lagi nada yang dihasilkan dari sisa getaran tersebut, yang dapat mengganggu nada yang dihasilkan oleh lempeng yang ditabuh berikutnya.

Terdengar cukup sulit memang, kalau tidak mau dikatakan ribet. Secara berkelakar saat itu saya menanggapi bahwa itulah mungkin salah satu pembeda antara Indonesia dengan Jepang. Kalau di Indonesia kerumitan semacam itu akan secara mentah-mentah ditahbiskan menjadi bagian dari tradisi memainkan gamelan yang sakral dan seolah-olah tidak dapat diganggu-gugat. Namun kalau di Jepang, meskipun alat musik tersebut tetap akan menjadi tradisi yang luhur dan dihormati, di lain pihak pasti akan ada upaya untuk meneliti dan mencari cara lain untuk meredam getaran saron dan demung sehingga sang penabuh tidak perlu terlalu ribet lagi ber-“akrobat” dengan kedua tangannya. Mungkin dari material logam lempengannya, dari konstruksi penampangnya, penabuhnya, atau dari hal-hal yang bersifat teknis lainnya.

***

Mungkin tidak ada yang lebih memalukan daripada pejabat publik yang mengeluarkan pernyataan yang terbukti sangat keliru di kemudian hari. Belum terlalu lama, contohnya, ada seorang Menteri Perhubungan yang dengan yakin mengkonfirmasi kebenaran kabar bahwa sebuah pesawat terbang yang sebelumnya diberitakan hilang ternyata telah ditemukan di sebuah lokasi, namun pada kenyataannya kepastian tentang nasib pesawat tersebut tetap tidak jelas sampai berbulan-bulan lamanya.

Kalau dalam kilas sejarah perlindungan HKI, konon ada juga sebuah prediksi yang dikeluarkan oleh seorang Commissioner (kepala) Kantor Paten dan Merek Amerika Serikat (USPTO) di hadapan Kongres bahwa dalam beberapa tahun ke depan Kantor Paten AS akan tutup karena tidak ada lagi yang bisa dikerjakan. Pasalnya, menurut sang pejabat, “segala sesuatu yang dapat ditemukan telah ditemukan”.

Prediksi semacam ini tentunya sah-sah saja. Yang jadi masalah kemudian adalah, pernyataan ini dibuat pada sekitar tahun 1899 dimana, seperti yang kita tahu sendiri, masih banyak penemuan-penemuan besar di bidang teknologi yang belum terjadi. Pesawat terbang, misalnya, baru ditemukan tahun 1904 oleh Wright Bersaudara. Belum lagi teknologi-teknologi lainnya seperti televisi, mikroprosesor dan lain sebagainya.

Lantas, mungkinkah suatu saat nanti kantor paten benar-benar akan kehilangan pekerjaan hanya karena tidak ada lagi yang bisa ditemukan?

Pertanyaan ini pernah pula dilontarkan oleh salah seorang rekan sekerja saya saat kami bersama-sama mengerjakan penyusunan dokumen permohonan paten milik salah-satu klien kami. Saat itu dengan penuh keyakinan saya menjawab: tidak!

Kalau suatu saat jawaban saya ini terbukti salah, biarkanlah saya menanggung malu seumur hidup, saya rela serela Meggy Z dalam lagunya Sakit Gigi. Namun saya pikir saya cukup punya alasan yang kuat untuk jawaban saya itu: sepanjang manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada, maka akan selalu ada penemuan-penemuan baru yang bisa dipatenkan.

Meskipun salah satu syarat bagi suatu invensi untuk dapat memperoleh perlindungan adalah kebaruan, namun “baru” di sini tidak dapat diartikan sama-sekali baru, karena suatu invensi atau penemuan pada hakikatnya adalah hasil pengembangan dari teknologi yang sudah ada. Hanya karena manusia tidak pernah merasa puaslah maka selalu dicari perbaikan-perbaikan untuk terus mengembangkan sebuah teknologi dan menghasilkan sesuatu yang kemudian dianggap “baru” tadi.

Saya cukup bersyukur hal di atas tadi rupanya disadari juga oleh para pembuat undang-undang kita, sehingga mereka cukup bijak dalam merumuskan pengertian Invensi dalam Pasal 1 UU no.14 tahun 2001 tentang Paten, yaitu sebagai “ide inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi…”. Ya, problem-solving, itulah inti dari setiap proses lahirnya sebuah invensi.

Banyak orang yang masih sering keliru dengan menganggap bahwa ada satu paten untuk setiap produk teknologi yang kita kenal. Paten untuk televisi, paten untuk mesin jet, paten untuk telepon genggam, hingga paten untuk obat kuat lelaki. Padahal sesungguhnya di dalam suatu produk teknologi yang ada di tangan kita sangat besar kemungkinan terdapat ratusan bahkan ribuan invensi yang mewakili fungsi-fungsi terpisah, seperti puzzle yang disusun sambung-menyambung menjadi satu.

Di samping itu, setiap invensi yang dipatenkan sejatinya merupakan kelanjutan mata rantai dari serangkaian teknologi terdahulu, baik yang dipatenkan maupun tidak, yang dalam bidang HKI dikenal dengan istilah prior art. Ambil saja lampu bohlam sebagai contoh. Kalau anak-anak sekolah ditanya siapa penemu lampu bohlam, maka jawaban yang keluar hampir dapat dipastikan adalah Thomas Alva Edison. Padahal sejarah mencatat setidaknya 22 nama inventor yang berkontribusi pada perkembangan awal penciptaan lampu bohlam sejak Humphry Davy di tahun 1802 sebelum akhirnya Edison berhasil menemukan teknologi lampu bohlam yang dianggap paling memiliki nilai ekonomis di tahun 1879. Puluhan atau mungkin ratusan paten sudah diberikan pada masa-masa awal itu, dimana hak atas paten-paten tersebut banyak yang dibeli oleh Edison sebagai dasar penelitian yang ia lakukan sampai ia sendiripun akhirnya memiliki ratusan paten terkait dengan pengembangan teknologi lampu bohlam dari total sekitar 1500-an paten yang ia miliki.

Toh manusia tetap tidak pernah puas karena teknologi lampu bohlam tidak berhenti sampai di Edison saja. Penelitian dan pengembangan untuk menyempurnakan teknologi tersebut terus-menerus dilakukan dan menjadi sedemikian spesifik seperti untuk komposisi serta pembuatan filamen yang dipergunakan, zat yang dipergunakan untuk mengisi ruang di dalam bola lampu serta teknik pengisiannya, dan lain sebagainya sampai saat ini, dimana lampu bohlam perlahan-lahan mulai digantikan oleh jenis lampu lain yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Itu baru lampu bohlam saja, belum untuk hal-hal lain yang tak terbilang banyaknya.

Namun tentu saja, intinya adalah satu: adanya ketidak-puasan manusia akan sesuatu hal ditambah adanya dorongan serta kemauan untuk mencari cara untuk melakukan penyempurnaan demi mengatasi ketidak-puasan tersebut. Yah, namanya juga manusia kan?…

***

Apabila kita kaitkan dengan alat musik Demung atau Saron tadi, bisa jadi ribetnya cara memainkan kedua alat musik tersebut sempat menimbulkan ketidak-puasan pada para penabuhnya. Namun mungkin karena memang nrimo, takut kualat atau sebab-sebab lain, sampai sekarang alat musik Demung dan Saron tetap sama seperti ratusan tahun yang lalu sebagaimana instrumen gamelan lainnya. Tidak salah memang, namanya juga melestarikan budaya. Tapi mungkin tidak ada salahnya juga kalau upaya pengembangan ikut dilakukan.

Intinya saya bukannya ingin mengganggu-gugat soal gamelan, jangan-jangan nanti malah dituduh sirik tanda tak mampu karena memang saya tidak bisa memainkan alat musik apapun. Bukan, bukan itu. Saya cuma ingin berbagi saja, dengan harapan agar mudah-mudahan ke depan kita tidak ragu-ragu lagi untuk berikhtiar untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang kita hadapi. Kadang-kadang penyakit kita, termasuk saya sendiri, memang suka gampang menyerah bukan karena tidak mampu tapi karena malas atau ogah ribet.

Terbukti memang bahwa keberanian untuk mencoba dan mengatasi masalah yang kita hadapi merupakan salah satu kunci utama lahirnya invensi-invensi yang bernilai dan bermanfaat, terlepas dari apakah invensi itu kemudian dipatenkan ataupun tidak. Tidak jadi soal, itu adalah hak masing-masing dan dipengaruhi juga oleh berbagai faktor, meskipun toh terbukti juga pada banyak kasus bahwa perlindungan paten bermanfaat dalam melindungi hasil inovasi kita tadi dari mereka-mereka yang lebih malas lagi dari kita, sekaligus mengembalikan investasi yang sudah kita tanam untuk menghasilkan invensi itu sendiri. Asal nggak maruk aja siih…:p

Sekian, terima-kasih dan selamat berinovasi!

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: