CATATAN HKI: PEMAHAMAN HKI DAN HAK KEKAYAAN INTELEKETUAL

Setiap kali menonton film di bioskop, saya selalu menunggu-nunggu beberapa saat sebelum film diputar ketika di layar ditampilkan berbagai hal mulai dari cuplikan film-film yang akan segera diputar sampai iklan nggak penting lotion pemutih wajah. Satu hal yang menarik perhatian saya untuk dilihat adalah sebuah slide pesan layanan masyarakat yang intinya adalah menghimbau penonton untuk menghormati HKI. Slide pesan layanan masyarakat yang tampaknya dipasang oleh Direktorat Jenderal HKI ini sebenarnya biasa-biasa saja kalau bukan karena satu hal: tulisan “HAK KEKAYAAN INTELEKETUAL”, bukannya “HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL” seperti yang semestinya.

Kesalahan penulisan pada slide dengan kelebihan satu huruf “E” ini memang membuat kata yang dihasilkan menjadi terdengar lucu di telinga saya. Tapi yang menarik adalah slide yang salah tulis ini tetap ada sejak saya pertama kali melihatnya beberapa tahun yang lalu dan ditayangkan berkali-kali setiap hari di setiap bioskop yang pernah saya datangi baik di Jakarta maupun Bandung tanpa pernah dikoreksi. Kalau tidak percaya, coba saja kapan Anda berkesempatan nonton di bioskop, tunggu dan pantengin aja dah itu slide…;p

Sepele kelihatannya memang, cuma kelebihan huruf satu saja. Namun kenyataan bahwa kesalahan ini tidak pernah dibetulkan membuat saya berpikir bahwa kesalahan tersebut mungkin memang tidak pernah disadari atau diperhatikan oleh orang lain, termasuk si pembuat slide sendiri barangkali. Dan apabila ditelusuri penyebabnya, bisa saja ini menandakan memang masih rendahnya perhatian dan pemahaman kita mengenai jenis binatang apakah Hak Kekayaan Intelektual itu.

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, ketika itu saya berada ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta menanti pesawat yang akan membawa saya ke Melbourne, Australia, untuk memulai studi S2 saya di bidang HKI. Saat itu saya sempat berbincang-bincang dengan seorang lelaki paruh baya yang duduk di sebelah saya, yang mengaku sebagai seorang pengacara di Jakarta dan akan ke Australia untuk urusan bisnis. Dia cukup tertarik mengetahui saya juga akan ke Australia untuk melanjutkan sekolah di bidang Hukum.

“Jadi mau S2 di Australia, dik? Bidang hukumnya apa yang mau diambil?”, tanyanya kepada saya.

“Intellectual Property Law, mas.” Jawab saya.

Si orang tadi langsung sumringah. “Waah hebat, bagus itu. Pilihan yang tepat!”

“Oh iya ya mas? Memangnya kenapa?” tanya saya lagi.

“Oh iya jelas itu!” tukasnya lagi dengan antusias. “Property memang lagi booming sekarang, dik. Kemarin klien saya saja baru ada teken proyek pembangunan beberapa apartemen sekaligus di Jakarta…,” ujarnya dengan nada yang sangat sok tahu sambil terus bercerita tentang apartemen-apartemen kliennya itu…

Dugh!!!

***

Ada lagi satu hal yang menurut saya menjadi salah satu pertanda masih minimnya pengetahuan dan pemahaman orang Indonesia tentang HKI, yaitu membabi-butanya penggunaan kata “paten” untuk merepresentasikan segala sesuatu yang dianggap terkait dengan masalah HKI.

Padahal, Paten hanyalah satu dari sekian banyak anggota keluarga besar rejim perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang berlaku baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Objek perlindungan paten pun terbatas pada penemuan – dalam UU no. 14 tahun 2001 tentang Paten digunakan istilah “invensi” – di bidang teknologi yang memenuhi syarat baru, mengandung langkah inventif serta dapat diterapkan dalam industri. Dalam pengertian ini tentu saja, mematenkan teknologi pengapian kendaraan bermotor atau mematenkan vaksin flu yang lebih efektif adalah benar; sedangkan mematenkan batik, mematenkan tari pendet, atau mematenkan reog ponorogo adalah kesalah-kaprahan.

Tentu saja masyarakat awam tidak bisa terlalu disalahkan dalam hal ini. Namun celakanya kesalah-kaprahan semacam ini juga sering dilakukan oleh media massa yang seharusnya berperan menjadi sarana informasi dan pembelajaran masyarakat, atau bahkan oleh para pejabat pemerintah yang mestinya lebih tahu akan hal tersebut. Saat sedang ramai-ramainya pemberitaan mengenai penggunaan tari pendet dalam promosi wisata Malaysia tempo hari, misalnya, gencar diberitakan oleh media massa bahwa pemerintah akan berupaya untuk mematenkan tari pendet dan aset-aset budaya Indonesia lainnya. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kita konon juga baru-baru ini sempat menghimbau para kepala daerah di Indonesia untuk mendaftarkan hak paten upacara adat perkawinan di daerah masing-masing. Entah mana yang salah, medianya yang memberitakan atau pejabatnya yang memberi keterangan. Lebih parahnya lagi, sempat juga saya baca di salah satu media bahwa aset budaya kita tersebut akan dipatenkan di UNESCO, lembaga internasional yang samasekali tidak ada kaitannya apapun dengan urusan HKI dan paten-memateni ini….!

Sekilas ini mungkin hanya masalah penggunaan istilah semata, karena toh yang dimaksudkan oleh mereka adalah untuk melindungi hak atas aset-aset budaya tersebut agar tidak diserobot oleh bangsa lain. Namun tetap saja berbagai kesalah-kaprahan ini menunjukkan dengan jelas betapa masih rendahnya pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai apa itu Hak Kekayaan Intelektual, apa saja bentuk-bentuk perlindungan yang tercakup di dalamnya, dan termasuk pula bagaimana membedakan apa itu paten, hak cipta, merek, desain industri berikut objek-objek perlindungannya.

Saya sendiri sering berhadapan langsung dengan ketidak-tahuan dan kebingungan masyarakat awam akan jenis-jenis perlindungan HKI ini dalam keseharian pekerjaan saya di kantor, dimana saya ditempatkan di Divisi Paten dengan salah satu tanggung-jawabnya adalah untuk langsung membantu memberikan konsultasi kepada setiap klien yang hendak mengajukan permohonan paten melalui kantor kami. Nah, sudah beberapa kali kejadian terkait dengan tanggung-jawab ini, setelah menjelaskan panjang-lebar ternyata baru diketahui bahwa yang diinginkan oleh si klien adalah mendaftarkan merek dagangnya, bukan paten, sehingga merupakan jatahnya rekan-rekan saya di Divisi Merek.

Setelah ditelusuri, kekeliruan tersebut terjadi gara-gara pada saat ditanya keperluan mereka oleh resepsionis kami, klien-klien itu hanya menjawab “mau mematenkan produk” sehingga sang resepsionis dengan polosnya langsung mempertemukan sang klien dengan saya. Kalau sudah begini, yang bisa saya lakukan paling hanya menghela nafas panjang sambil tersenyum geli kemudian…

***

Pemahaman yang baik mengenai apa itu Hak Kekayaan Intelektual tentunya mutlak diperlukan, karena saya yakin bahwa pemahaman yang baik akan HKI merupakan fondasi yang utama bagi tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk mulai melindungi aset-aset intelektual mereka. Dan dari yang saya amati sehari-hari, saya bisa melihat bahwa antusiasme masyarakat untuk melindungi aset-aset intelektual melalui perlindungan HKI sebenarnya makin meningkat, apalagi mungkin dipicu dengan maraknya isu penyerobotan aset-aset kebudayaan kita oleh negeri tetangga. Tinggal lagi bagaimana antusiasme ini ditindak-lanjuti dengan memberikan pemahaman mengenai konsep-konsep HKI secara tepat dan benar.

Mendidik masyarakat untuk mulai paham HKI memang tidak mudah dan membutuhkan kerja keras dari banyak pihak. Mungkin kita bisa mencontoh Jepang dalam hal ini, yang sudah memberikan pemahaman mengenai konsep-konsep HKI secara bertahap kepada masyarakatnya bahkan sejak di tingkatan taman kanak-kanak, dimana hasilnya cukup terbukti dengan tampilnya Jepang sebagai salah satu bangsa yang paling aktif dalam berinovasi di bidang teknologi.

Terlebih lagi Indonesia saat ini tengah gencar-gencarnya mengkampanyekan ekonomi berbasis inovasi. Tentunya pemahaman yang baik mengenai HKI menjadi sangat kebutuhan yang mutlak penting karena hanya dengan pemanfaatan dan pengelolaan HKI secara tepatlah hasil-hasil kreativitas dan inovasi anak bangsa nantinya bisa memberikan manfaat ekonomi yang optimal.

Dan mudah-mudahan saat masyarakat semakin sadar HKI nanti, kenyamanan saya dalam menunggu film mulai diputar di bioskop tidak akan terganggu lagi dengan iklan layanan masyarakat HAK KEKAYAAN INTELEK-“E”-TUAL…. Amiin!

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: