SANG SUPERSTAR YANG SADAR HKI: A TRIBUTE TO JACKO

Michael Jackson, the King of Pop, meninggal dunia pada hari hari Kamis (25/6) yang lalu di Los Angeles, California, pada usia 50 tahun. Seolah merefleksikan beragam kontroversi yang mengisi perjalanan hidupnya sejak masih menjadi bintang cilik bersama Jackson 5 hingga menjadi penyanyi pop pencetak album terlaris sepanjang masa, kematian Jacko pun masih mengundang kontroversi khususnya terkait dengan penyebabnya, meskipin sampai saat ini masih diyakini bahwa ia meninggal karena serangan jantung.

Terlepas dari segala kontroversi yang timbul dari kehidupannya yang eksentrik, Michael Jackson juga akan tetap dikenang dan dihormati orang karena kontribusi yang ia hasilkan untuk dunia, khususnya di bidang musik dan industri hiburan, semasa hidupnya. Ia telah merevolusi banyak hal: mulai dari musik pop itu sendiri; sinergi antara musik, trik-trik serta koreografi dalam aksi panggung; penggunaan video musik sebagai sarana promosi sekaligus media ekspresi yang orisinil; dan termasuk juga penghargaan masyarakat dan khususnya media terhadap seniman-seniman kulit berwarna di Amerika Serikat.

Anda mungkin bertanya-tanya, ada kaitan apa Michael Jackson dengan hak kekayaan intelektual sehingga saya memuat bahasan tentang dirinya dalam catatan HKI saya kali ini? Kalau jawabannya hanya sekedar karena Michael Jackson adalah pencipta lagu yang sangat sukses, sepertinya saya terlalu memaksakan diri untuk ikut-ikutan bicara soal Jacko di sini.

Oke, kalau Anda sudah tidak terlalu neq lagi dengan segala pemberitaan hingar-bingar soal kematian sang superstar yang menjejali kita dalam beberapa waktu terakhir ini, Anda akan saya ajak untuk berbagi sesuatu tentang Jacko dan Hak Kekayaan Intelektual…

***

Tahukah Anda bahwa selain menjadi musisi yang ikut menciptakan banyak lagu, Jacko juga terjun dalam bisnis music publishing company ?

Bagi anda yang belum familiar dengan bisnis ini, music publishing company pada prinsipnya adalah suatu perusahaan yang memiliki katalog musik berisi sejumlah lagu sekaligus memegang Hak Cipta atas lagu-lagu tersebut, sehingga dengan demikian perusahaan itu memiliki kontrol penuh atas penjualan, pemutaran serta penggunaan serta bentuk komersialisasi lainnya atas lagu-lagu dalam katalognya tersebut.

Dengan nilai yang berbeda-beda tergantung pada perjanjiannya masing-masing, pendapatan yang diterima oleh music publishing company dari hasil pemanfaatan secara komersial setiap lagu dalam katalognya akan dibagi dengan pencipta dari lagu tersebut sebagai royalti.

Dengan cara ini, pencipta lagu tidak perlu bersusah-payah kesana-kemari untuk mengontrol lagu-lagu ciptaannya dipergunakan oleh siapa dan dimana sehingga ia bisa memperoleh manfaat ekonomi dari Hak Ciptanya, namun cukup menyerahkan pengelolaan tersebut kepada music publishing company dan tinggal menerima hasil prosentase pembagian yang umumnya adalah sebesar 50% dari pendapatan yang diperoleh setiap lagu.

Nah, bisnis yang memegang peran sangat vital dalam Hak Cipta musik inilah yang diterjuni oleh Michael Jackson, yang inspirasinya ia dapatkan dari salah satu legenda di dunia musik lainnya – Paul McCartney dari The Beatles, dengan siapa ia berkolaborasi di awal tahun 80-an menghasilkan lagu-lagu hits seperti The Girl is Mine dan Say, Say, Say.

Pada tahun 1985 Michael Jackson membeli sebuah music publishing company bernama ATV Music Publishing senilai 47,5 juta dolar dengan katalog yang meliputi ribuan lagu termasuk hampir semua lagu-lagu The Beatles. Bayangkan saja, hitung-hitungan saat itu satu lagu “Yesterday” bisa menghasilkan sekitar 100,000 dolar setahun. Dikurangi royalti untuk pencipta lagu yang diberikan kepada Paul McCartney dan Yoko Ono sebagai janda/ahli waris John Lennon, Jacko masih bisa mengantongi 50,000 dolar hanya dari satu lagu itu saja, belum memperhitungkan ratusan lagu laris khusus dari katalog lagu-lagu the Beatles semata.

Bisnis ini memang sangat menguntungkan dan menggiurkan. Tak mengherankan kalau 15 tahun kemudian di tahun 1995 perusahaan Jepang Sony menawar 90 juta dolar untuk membeli 50 prosen saham Jacko di ATV Music Publishing, yang langsung diterima oleh Jacko dengan senang hati, “it don’t matter if you’re black or Japanese,” katanya. Apalagi Jacko mengecualikan hak atas seluruh lagu-lagunya sendiri dari transaksi tersebut, dan nama perusahaan itu pun berubah menjadi Sony/ATV Music Publishing.

Selanjutnya adalah sejarah. Tahun 2001 mereka mengakuisisi katalog milik Baby Mae berisi sekitar 600 lagu, berlanjut dengan akuisisi Acuff-Rose senilai 157 juta dolar dengan katalog berisi lebih dari 55,000 lagu. Terakhir, tahun 2007 Sony/ATV mengakuisisi Famous Music senilai 370 juta dolar dengan katalog berisi 125,000 lagu dimana di dalamnya terdapat lagu-lagu seperti “Moon River“, “Footloose“, serta sejumlah hits dari Shakira, Beck, Bjork dan juga Eminem termasuk “The Real Slim Shady” dan “Without Me“. Sebuah ironi karena di video musik untuk “Without Me“, Eminem justru memparodikan Michael Jackson…

Di tahun 2002, saham Jacko di Sony/ATV yang berjumlah 50 persen diperkirakan bernilai 540 juta dolar. Lagu-lagu yang ada di katalog Sony/ATV diperkirakan menghasilkan hingga 80 juta dolar setiap tahunnya, dimana lagu-lagu hits milik The Beatles sendiri mampu menghasilkan sekitar 30 hingga 45 juta dolar di antaranya.

***

Satu lagi hubungan menarik antara mendiang Michael Jackson dengan HKI yang tidak banyak diketahui orang adalah: Michael Jackson adalah seorang inventor sekaligus pemilik hak dari salah-satu Paten yang terdaftar di United States Patent and Trademark Office (USPTO)…!

Paten bernomor US 5,255,452 yang diberi tahun 1993 tersebut adalah untuk invensi berjudul Method and Means for Creating Anti-Gravity Illusion. Kalau Anda bertanya-tanya “ilusi” macam apa yang hendak dilakukan oleh Jacko dengan invensi tersebut, jawabannya alat yang dipatenkan ini sebenarnya semacam sepatu yang dirancang dengan sedemikian rupa dan berpasangan dengan semacam kait yang diletakkan pada lantai sehingga saat sepatu dan lantai saling terkait dapat membuat tubuh si pemakai condong ke depan dengan sudut kemiringan yang cukup ekstrim namun tanpa kehilangan keseimbangan.

Jacko bersama-sama dengan timnya menciptakan alat ini untuk keperluan koreografi panggung yang ia rencanakan untuk penampilan live lagu “Smooth Criminal” menyesuaikan dengan atraksi serupa di videoklip lagu itu sebelumnya. Hanya saja tidak mungkin alat bantu berupa kabel yang dipakai di videoklip dipakai juga pada aksi panggung karena selain ribet juga akan terlihat jelas sehingga mengurangi unsur surprise dari atraksi tersebut, sehingga sebuat alat khusus pun mesti dirancang.

Saya tidak tahu pasti apa motivasi Jacko mematenkan alat ini karena tampaknya sepatu panggung tersebut tidak pernah secara langsung dikomersialkan dengan diproduksi masal dan dijual. Namun setidaknya dengan sepatu ini dipatenkan, para penampil lain yang ingin mengimitasi aksi panggung Jacko akan berpikir dua kali kalau harus menggunakan alat alat bantu yang sudah dipatenkan terlebih dahulu kalau tidak mau mendapatkan thriller dari Jacko berupa gugatan pelanggaran paten!

***

Itulah Michael Jackson, sang superstar kita yang sadar HKI, dan yang saat ini telah pergi mendahului kita.

Selamat jalan Jacko!

***

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

One Response to SANG SUPERSTAR YANG SADAR HKI: A TRIBUTE TO JACKO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: