HKI UNTUK WARISAN BUDAYA TRADISIONAL: PATENKANLAH KUE-KU…!

Belum lama ini sebuah e-mail diterima oleh kantor kami dari seorang staf pemerintahan daerah salah-satu kabupaten di Kalimantan, menanyakan kemungkinan untuk “mematenkan” beberapa aset lokal yang dimiliki oleh daerah tersebut, tanpa menyebutkan apa saja aset lokal yang dimaksud. Kebetulan sekali, saya yang bertugas menangani pertanyaan tersebut pernah tinggal di daerah tersebut selama empat tahun dahulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ikut orang-tua yang bertugas di sana.

Dalam e-mail balasan sempat saya singgung sedikit mengenai pengalaman masa kecil saya itu, sambil menjelaskan sedikit tentang sistem HKI dan menanyakan lebih lanjut dalam bentuk apakah aset-aset lokal yang ingin mereka lindungi. Dalam e-mail selanjutnya, si penanya mengungkapkan keterkejutannya mengetahui saya pernah mempunyai hubungan langsung secara pribadi dengan daerah tempat tinggal mereka, dan langsung menyebutkan beberapa kudapan khas daerah tersebut sebagai aset-aset lokal yang ingin mereka “paten”-kan.

Membaca e-mail tersebut, mau tak mau ingatan saya langsung melayang ke kenangan belasan tahun yang lalu tentang tempat tersebut, berikut kudapan-kudapan yang disebutkan dalam e-mail yang memang dahulu menjadi kegemaran saya semasa kecil. Saking ngiler-nya, hampir-hampir saya lupa untuk melanjutkan bekerja…

***

Semangat untuk mem-“paten”-kan produk-produk tradisional memang mulai menjamur di kalangan masyarakat dan pemerintah lokal di berbagai daerah di Indonesia. Kalau saya tidak salah ingat, fenomena ini diawali dengan isu kencang telah dipatenkannya beberapa aset budaya lokal kita seperti batik dan tempe oleh bangsa lain, dan semakin memanas saat lagu “Rasa Sayange” dipergunakan oleh negeri jiran Malaysia dalam situs promosi pariwisata negara itu, tanpa ijin atau persetujuan dari Indonesia.

Sejak saat itu, seolah-olah seluruh daerah mulai berlomba untuk melindungi kekayaan lokal mereka sedapat mungkin dengan cara apapun, khususnya melalui perlindungan HKI. Fenomena ini sebenarnya cukup menarik dan positif, terlebih karena akhirnya kebudayaan tradisional kita yang selama ini begitu kepayahan membendung derasnya arus modernisasi kembali dilirik dan diperhatikan sebagai aset intelektual yang berharga lebih dari sekadar pemanis museum atau buku-buku pelajaran IPS.

Hanya saja, kegairahan ini belum dibarengi dengan pemahaman yang memadai mengenai sistem perlindungan hak kekayaan intelektual, sehingga kerap menimbulkan salah-kaprah. Contoh paling kentara tentu saja adalah penggunaan membabi-buta istilah “paten” atau “mematenkan” untuk hampir semua objek pembicaraan yang terkait dengan perlindungan HKI. Celakanya kesalah-kaprahan ini tidak saja terjadi pada masyarakat awam, melainkan justru sering dilakukan oleh media massa nasional yang seharusnya menjadi alat pembelajaran bagi masyarakat pada umumnya.

Segalanya lantas mau dipatenkan, mematenkan batik, mematenkan rendang, mematenkan merek, bahkan mematenkan buku dan lagu. Padahal paten hanya salah-satu dari sekian banyak anggota keluarga besar Hak atas Kekayaan Intelektual atau HKI. Dan objek perlindungan paten pun terbatas hanya pada invensi (penemuan) di bidang teknologi yang baru, mengandung langkah inventif dan dapat diterapkan dalam industri.

Selain paten masih ada Hak Cipta yang melindungi ekspresi-ekspresi asli/orisinil seorang pencipta di bidang ilmu pengetahuan, sastra ataupun seni seperti buku, karya-karya tulis, lagu, syair, puisi, patung, dan lain sebagainya. Merek sebagai penanda asal-usul suatu barang/jasa yang dilindungi sepanjang tidak sama dengan merek yang sudah lebih dahulu terdaftar milik pihak lain. Atau Desain Industri yang melindungi tampilan estetika yang baru dari suatu produk industri. Masing-masing memiliki karakteristik, ruang lingkup, serta kekuatan perlindungan yang berbeda-beda.

Oke, mungkin kalau saya jelaskan secara panjang lebar tentang HKI dan keluarga besarnya, si orang pemda yang menanyakan tadi akan langsung merasa bingung dan bosan dan lantas memotong “kuliah” saya tersebut dengan pertanyaan bernada tidak sabar, “jadi perlindungan HKI apa dong yang menurut Anda tepat untuk kudapan-kudapan asli daerah saya ini?”

Dan dengan sangat menyesal, mungkin dengan ditambah ekspresi muka a la kucing bersepatu boot di film Shrek II, saya akan terpaksa menjawab dengan: “Maaf pak, sepertinya tidak ada…”

Lho kok begitu?

Untuk menjawabnya, pertama marilah kita berandai-andai bahwa produk yang hendak di-“paten”-kan itu tadi adalah colenak atau peuyeum bandung, misalnya. Colenak atau peuyeum jelas bukan teknologi baru yang artinya tidak dapat diberi paten. Colenak atau peuyeum juga bukan ekspresi orisinil berbentuk buku atau karya tulis atau lagu, meskipun ada lagu daerah berjudul peuyeum bandung yang katanya “tos kakoncara ku nikmat rasana” itu. Colenak atau peuyeum juga adalah nama definitif/generik dari kudapan yang dimaksud, sehingga tidak bisa didaftarkan sebagai merek. Untuk indikasi geografis sih mungkin saja, sepanjang bahan baku colenak atau peuyeum hanya bisa diambil dari singkong jenis tertentu dan tumbuh di daerah tertentu pula. Dan soal desain, rasanya kalaupun desain colenak dan peuyeum dianggap cukup baru untuk dilindungi, tidak akan ada yang mau buang-buang uang mendaftarkan bentuk colenak yang sedemikian lembek itu.

Kedua, inti permasalahannya terletak pada perbedaan karakteristik yang sangat fundamental antara produk-produk tradisional seperti kudapan khas daerah tadi dengan sistem perlindungan HKI umumnya.

Secara umum perlindungan HKI diberikan kepada karya-karya intelektual yang baru/orisinil, sebagai bentuk penghargaan (reward) kepada sang inventor/pencipta karena telah berkontribusi kepada kemajuan kebudayaan dan ilmu-pengetahuan dengan karya-karyanya tersebut. Sebaliknya, produk-produk tradisional adalah sesuatu yang sudah ada sejak lama dan dihasilkan secara turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi selama puluhan bahkan mungkin ratusan atau ribuan tahun lamanya. Baru? Saya rasa tidak. Orisinil? Mungkin, tapi masalahnya, siapa dulu yang menciptakan?

Lantas mengapa batik dan tempe bisa dipatenkan oleh bangsa lain?

Nah itu dia bukti kesalah-kaprahan kita selanjutnya. Batik atau tempe seperti yang kita kenal, baik motif-motif yang sudah lazim, wujud maupun proses pembuatannya tidak dapat dipatenkan oleh siapapun. Bukan karena sudah dimiliki dan dimonopoli oleh suatu bangsa tertentu, tapi ya karena alasan di paragraf di atas tadi: baik batik maupun tempe sama-sama produk warisan tradisional yang sudah dikenal selama ratusan tahun lamanya, sehingga tidak mungkin bisa memenuhi syarat kebaruan.

Kalau Anda berkesempatan berkunjung ke website US Patent and Trademark Office (USPTO – link-nya tersedia di bagian kanan blog saya ini), coba cari paten bernomor US 6,821,313 yang diberi pada tahun 2004 dan masih berlaku hingga tahun 2022, berjudul Method and Kit for Batik Art. Paten ini diberikan kepada Scratch-Art Company, Inc. yang berkedudukan di negara bagian Massachusetts atas karya seorang inventor berkebangsaan Amerika Serikat bernama Nathan Polsky. Silakan Anda pelajari abstrak, spesifikasi dan klaim-klaimnya dan Anda akan mendapati bahwa paten ini terkait dengan invensi berupa metode dan alat baru untuk melakukan pembatikan tanpa perlu menggunakan malam yang dipanaskan dan dilelehkan serta tanpa canting.

Ya, sebagaimana paten ini serta paten-paten terkait batik ataupun tempe, semuanya diberikan pada invensi-invensi hasil pengembangan yang dilakukan terhadap produk maupun proses pembatikan atau pembuatan tempe yang yang selama ini kita kenal. Dan saya katakan di sini bahwa itu bukanlah pencurian. Pertama karena batik atau tempe adalah warisan budaya dunia yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja dengan bebas karena telah menjadi milik umum. Dan kedua karena kita yang selama ini melihat batik dan tempe sehari-hari di depan jidat kita sendiri toh cuma anteng-anteng saja memanfaatkan warisan budaya itu seadanya.

Disinilah mestinya kita tersadar bahwa di samping kesalah-kaprahan kita selama ini, dosa terbesar kita berikutnya adalah ketidak-pedulian serta tidak adanya penghargaan kita terhadap warisan budaya kita sendiri. Cara terbaik untuk memelihara dan melestarikan warisan budaya bukan dengan mengawetkannya di museum atau menuliskannya di buku-buku sejarah untuk kemudian hanya ditengok paling-paling setahun sekali setiap tujuh-belasan atau hari Kartini. Bukan dengan itu, melainkan dengan menggunakan kecerdasan dan kreativitas kita untuk mengembangkan warisan-warisan budaya tersebut sehingga tetap sesuai dengan jamannya.

Jadi ya jangan marah kalau orang mematenkan pengembangan terhadap tempe kita, kalau kita sendiri masih malu-malu untuk memasukkan tempe sebagai menu hidangan untuk menjamu tamu-tamu penting kita. Dan anak-anak muda kita juga jangan sampai menghujani Malaysia dengan hujatan-hujatan di blog gara-gara memakai lagu “Rasa Sayange”, sementara mereka sendiri terlalu asyik mendengarkan musik R&B – yang sebenarnya dikembangkan dari musik ritmik tradisional Afrika itu – dan lupa kalau ada lagu berjudul Rasa Sayange sampai jiran kita memakainya.

***

Akhirnya dengan berat hati saya sampaikan pada orang pemda tadi melalui e-mail bahwa kudapan-kudapan enak mereka ternyata tidak klik dengan perlindungan HKI yang ada.

Kecuali…

…mungkin mereka membuat pengembangan-pengembangan yang secara teknologi mengandung langkah inventif dan baru sehingga pengembangan tersebut dapat dilindungi paten;….

…menerbitkan buku-buku resep atau memproduksi video-video kuliner pembuatan kudapan-kudapan tersebut, yang dapat dilindungi hak cipta, sekaligus membuat kudapan-kudapan itu bisa lebih luas dikenal;…

…mengemas kudapan-kudapan tersebut dengan label merek tertentu yang khas dan memiliki daya pembeda sehinggal dapat didaftarkan sebagai merek barang atau sekaligus dengan merek jasa untuk pemasarannya…

tentunya dengan dibarengi dengan strategi branding dan pemasaran yang efektif sehingga citra kudapan tersebut akan melekat dengan kuat pada daerah mereka.

Tinggal bagaimana kreativitas saja tentunya…

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: