LANGKAH INVENTIF DALAM PATEN: BUKAN DENGAN MEJIK…!

Beberapa hari yang lalu saya bersama beberapa rekan kerja diundang untuk rapat di kantor salah satu klien lokal kami di kawasan Semanggi. Sejak beberapa minggu terakhir kami memang sedang menyiapkan laporan patentability analysis terhadap sebuah pengembangan teknologi yang ditemukan oleh klien tersebut. Tujuan dilakukannya patentability analysis tentunya adalah untuk mengetahui sejauh mana suatu pengembangan teknologi yang dihasilkan dapat memenuhi syarat untuk diberi perlindungan paten sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Rapat kali ini adalah yang untuk kesekian-kalinya dilakukan, dimana setelah beberapa minggu menelaah dokumen-dokumen yang diberikan oleh klien terkait dengan penemuannya tadi kami merasa masih belum juga menemukan titik terang mengenai aspek yang mana dari penemuan tersebut yang dapat dipatenkan. Data-data yang diberikan kepada kami mengenai penemuan tersebut rata-rata sudah tercakup dalam dokumen-dokumen paten maupun publikasi lainnya yang kami temukan saat melakukan proses penelusuran paten. Untuk bisa mengetahui lebih detail mengenai penemuan tersebut sehingga bisa dianalisis keunggulannya dibanding penemuan yang sudah ada kami tentunya memerlukan data-data teknis lanjutan yang lebih mendalam dan spesifik. Itulah yang sudah kami rencanakan untuk kami mintakan kepada klien dalam rapat kali ini sambil memberikan hasil sementara dari analisis yang sudah sejauh ini kami lakukan.

Mendengar permintaan kami, klien yang diwakili langsung oleh si peneliti yang mengembangkan teknologi tersebut langsung tertawa. Dia tidak menyangka bahwa data yang dia anggap sudah cukup itu ternyata masih kurang. Dia mengakui bahwa dirinya memang tidak punya pengalaman mempersiapkan pengajuan paten sebelumnya, sehingga dia tidak punya bayangan mesti se-spesifik apa data teknis yang harus diberikan untuk mendapatkan hasil yang seakurat mungkin.

Sambil tertawa dia juga bilang kalau dia memang sengaja menyederhanakan data yang dia berikan karena kebiasaan kalau memberikan laporan kepada para boss-nya, yang biasanya akan pusing kalau sudah diberi data teknis yang terlalu njelimet.

Saya jawab ketika itu bahwa untuk keperluan pengajuan paten justru sebaliknya. Pemeriksa paten adalah orang yang ahli di bidangnya masing-masing, dan sesuai dengan persyaratan untuk dapat diberi paten maka suatu invensi atau penemuan haruslah “tidak dapat diduga” – atau istilah yang dipergunakan di Amerika Serikat, not obvious – oleh orang yang ahli di bidang terkait, khususnya dalam hal ini adalah si pemeriksa paten.

Sambil bergurau saya tambahkan: “the more confusing the specification you give to the examiners, the more not-obvious it will likely to appear to them”!

***

Sesuai dengan ketentuan Pasal 2 ayat 1 UU no. 14/2001 tentang Paten, tiga syarat substansial agar suatu invensi dapat diberi paten adalah invensi tersebut harus (1) baru, (2) mengandung langkah inventif dan (3) dapat diterapkan dalam industri.

Syarat kebaruan dapat dipenuhi apabila invensi tersebut tidak sama dengan teknologi yang sudah ada dan pernah diungkap sebelumnya, baik melalui dokumen-dokumen paten terdahulu, jurnal ilmiah, spesifikasi teknis alat, maupun uraian lisan atau peragaan pada pameran dan kegiatan serupa. Sederhananya, sepanjang invensi tersebut belum pernah diketahui keberadaannya oleh orang banyak sebelumnya, bisa dibilang syarat kebaruan bisa dipenuhi dengan sukses.

Syarat dapat diterapkan dalam industri juga nggak sulit-sulit amat. Mentang-mentang ada kata industri, jangan dulu membayangkan bahwa suatu invensi harus diproduksi secara masal dalam sebuah pabrik yang besar. Industri di sini maksudnya adalah invensi tersebut harus dapat diproduksi atau dilaksanakan secara berulang-ulang dengan standar kualitas hasil yang sama.

Nah tapi kalau sudah masuk ke syarat memenuhi langkah inventif ini memang jadi gampang-gampang susah. Salah satu pasalnya barangkali adalah karena syarat ini cenderung lebih subjektif dibandingkan dengan kedua syarat lainnya. Betapa tidak, pasal 2 ayat 2 sendiri menyatakan bahwa suatu invensi haruslah tidak dapat diduga sebelumnya bagi orang yang memiliki keahlian di bidang teknik yang relevan, tentunya dengan memperhatikan teknologi saat itu. Masalahnya tentu saja “tidak dapat diduga” bagi seorang ahli belum tentu “tidak dapat diduga” bagi ahli yang lain bukan?

Padahal justru persyaratan “langkah inventif” inilah inti dari perlindungan paten yang diberikan kepada “invention” dan bukannya kepada “discovery”. Kedua istilah asing tersebut memang dapat diartikan sebagai “penemuan” dalam bahasa Indonesia, tapi tentu saja dengan makna dan muatan yang berbeda. Christoper Colombus tidak “menemukan” benua Amerika dalam makna yang sama dengan Thomas Edison “menemukan” bola lampu, karena benua Amerika memang sudah ada dan “nongkrong” di antara samudera Pasifik dan Atlantik sejak ribuan abad sebelum Colombus dilahirkan. Tentu saja, penemuan Colombus adalah discovery sedangkan penemuan Edison adalah invention, dan UU Paten pun sejak 2001 telah memilih menggunakan istilah “invensi” ketimbang “penemuan” untuk membedakan keduanya.

Tujuannya jelas: paten hanya diberikan kepada teknologi-teknologi baru yang dilahirkan dari langkah-langkah inventif yang jelas, bukannya teknologi-teknologi yang lahir berdasarkan keberuntungan semata, apalagi dari wangsit seperti halnya menebak nomor judi togel. Paten harus dipahami sebagai suatu bentuk reward yang diberikan oleh negara kepada seorang inventor (UU Paten menggunakan istilah ini dan bukan “penemu”), dan yang dianggap layak oleh negara untuk dihargai dengan pemberian hak eksklusif adalah proses yang ditempuh oleh seorang inventor untuk menghasilkan invensinya, bukan semata-mata hasil invensinya itu sendiri. Alasannya tentu saja karena di dalam proses itulah si inventor mencurahkan tenaga, kemampuan serta sumber daya yang dimilikinya demi menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Saat seseorang, misalnya, mengaku menemukan bahan bakar untuk mobil yang lebih ekonomis dan efisien daripada bensin, maka fakta bahwa bahan bakar itu lebih ekonomis dan efisien saja tidaklah cukup untuk memenuhi persyaratan langkah inventif sebagaimana yang diminta untuk mendapatkan paten. Haruslah dapat dijelaskan secara teknis bagaimana bahan-bakar temuan tersebut menjawab problem efisiensi yang terdapat pada bahan-bakar yang sudah ada, formula apa yang dipergunakan, campuran apa saja yang membentuk formula tersebut, serta bagaimana kesimpulan yang mengarah pada dihasilkannya formula tersebut dicapai, dengan hitung-hitungan yang seperti apa, dan lain sebagainya. Dan kalau jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan tadi tidak lebih baik dari sekedar “gak tau ya, coba-coba aja campur ini sama itu, eh tau-tau ketemu deh”, lupakan saja soal perlindungan paten…

Bahkan penerapan teknologi yang sudah ada untuk sesuatu objek yang baru pun belum tentu bisa memenuhi langkah inventif tersebut. Sebagai contoh, semua orang sepertinya tahu bahwa serbuk kopi instan dibuat dengan proses granulasi dimana air kopi dikeringkan sedemikian rupa menjadi serbuk yang kemudian dapat dicairkan kembali dengan ditambahkan air panas. Mengadopsi teknik serupa untuk jenis minuman lain seperti bandrek atau wedang jahe mungkin merupakan sesuatu yang baru, tapi tidaklah inventif karena orang dapat dengan mudah menduga bahwa serbuk bandrek atau wedang jahe instan tersebut dihasilkan melalui proses granulasi yang sama dengan serbuk kopi instan.

***

Pembuktian adanya langkah inventif adalah hal yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh setiap inventor yang ingin mematenkan invensinya. Meskipun subjektivitas pemeriksa paten ataupun hakim dalam sengketa-sengketa paten bisa cukup berpengaruh, namun setidaknya terdapat beberapa tolok ukur yang diperoleh dari preseden-preseden di berbagai negara yang dapat membantu menilai ada-tidaknya langkah inventif ini secara lebih objektif, yang akan saya coba bahas di blog ini dalam diskusi-diskusi selanjutnya.

Hal inilah yang kami coba terangkan secara panjang lebar kepada klien kami dalam rapat tadi, yang didengarkannya dengan cukup seksama sambil manggut-manggut, entah karena mengerti atau mengantuk. Yang jelas, kami lalu meninggalkan pekerjaan rumah supaya si klien memberi kami data-data yang lebih spesifik dan mendetail mengenai proses yang dilakukannya demi menghasilkan invensi tersebut. Mudah-mudahan saja, pada rapat yang akan datang kami tidak lagi mentok di situ-situ saja…amiiin…

Iklan

Perihal Prayudi Setiadharma
Prayudi adalah penulis dan kontributor utama situs/blog marimengenalhki.com. Sebagian artikel yang ditulis Prayudi dalam blog ini juga telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Mari Mengenal HKI" oleh penerbit Goodfaith Production pada bulan Mei 2010. Prayudi telah menaruh minat yang mendalam pada bidang hukum hak kekayaan intelektual (HKI) sejak mengerjakan tugas akhir di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia lalu memutuskan untuk menekuni minatnya tersebut dengan mengambil program Master of Intellectual Property Laws di University of Melbourne, Australia. Setelah menuntaskan program tersebut, Prayudi lalu bekerja di Law Firm AMROOS & PARTNERS, sebuah kantor hukum spesialis HKI yang berlokasi di Jakarta dan sejak Oktober 2010 berganti nama menjadi AMR PARTNERSHIP, hingga saat ini dimana ia berposisi sebagai Partner.

One Response to LANGKAH INVENTIF DALAM PATEN: BUKAN DENGAN MEJIK…!

  1. kkseito says:

    mantapnya pak.
    tahun 2009 saya belum ngerti apa itu KI, Patent, Merek dll. makanya saya ga dapat blog ini..
    baru tahun 2017 saya dapat blog bapak.. karena memang sekarang lagi ngurusin office action patennya orang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: